Musik
adalah sesuatu yang dapat memberi kekuatan pada diri seseorang saat ia
merasa lemah atau sedih --GD, Big Bang -- the winner of MTV EMA World
Act 211
Qoute di atas saya dapat dari postingan gagas media. lumayan cocok buat ocehan aneh ini :D
Gini, saya mikirin tentang keberadaan musik dan liriknya dalam kehidupan. keduanya menyatu seperti kopi dan gula. tapi keberadaan musik sebagai bagian dari seni yang banyak orang menyebutnya sebagai cara manusia menemukan wadah kemanusiaanya banyak mengalami penyimpangan.
contohnya, banyaknya porsi lagu bertema cinta yang terlalu fokus pada kondisi sakit hati, sedih, menangis, bahkan ada semacam sugesti yang tidak enak seperti tidak akan hidup tanpa orang yang dicintai. Padahal lagu dan musik seperti itu bukan solusi untuk keluar dari masalah. ujung-ujungnya malah akan membuat pendengar semakin tenggelam dalam kegalauan. fungsi lagupun yang harusnya menghibur malah berubah menjadi elegi cengeng yang tidak menyelesaikan masalah.
Jadi
seperti kutipan di atas lagu yang seharusnya bisa memberi kekuatan pada
diri seseorang saat ia merasa lemah atau sedih malah menjadi berlawanan dari
tujuan awalnya. lagu yang baik itu akan membuat pendengarnya mengatakan "ya, oh, benar, saya harus keluar dari pikiran negatif".
posisinya sebagai media universal membuat musik menyatu dalam kehidupan banyak orang. sehingga bisa disimpulkan, semakin banyak lagu galau maka perasaan destruktif yang ditimbulkan akan menjadi ancaman bagi kondisi psikologis dan orientasi hidup orang yang mendengarnya. hal itu bukan kabar gembira buat tiap orang yang selalu butuh dukungan untuk selalu kuat dalam kehidupan yang mengganas. paling tidak, peran musisi bisa menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi orang lain.
dan menyebalkannya, industri musik lebih banyak menuntut para musisi untuk menciptakan lagu cinta yang tidak mendidik. jadinya, musisi kurang idealis dalam menggarap karyanya. makanya, karya musisi saat ini sangat jauh berbeda dengan zaman dulu yang mengutaman kekuatan lirik dan paduan musik agar lagunya tetap didengar orang sepanjang masa. Hitunglah lagu POP karya Bob Tutupoli CS. tetap menjadi lagu wajib ada dalam list tempat-tempat karaoke. Dan yang kurang enak itu, lagu Bob Tutupoli CS juga ada dalam Bis antar kota yang biasa saya pakai untuk pulang kampung. saya hanya mempermasalahkan waktu pemutarannya saja. *soalnya lagu-lagu itu sering menemani saya muntah dalam bis dan moment itu menjadi hal yang selalu membuat saya shock ingin muntah saat mendengar lagu-lagu itu lagi meski sedang tidak naik kendaraan. :D [itu urusan pribadi yah?]
ya, hal ini karena musik dan lagu bisa menjadi pengingat untuk moment-moment tertentu. coba perhatikan orang tua kita. perdengarkan mereka lagu vina panduwinata atau lagu dian pisesha. atau gak usah jauh-jauh. puterin lagu Bob tutupoli saja, lalu cobalah tanya tentang masa lalunya. seperti air. cerita akan keluar deras dari bibir mereka. ajaib kan? :D
coba bayangin kalau generasi saat ini terus dicecoki dengan lagu cinta cengeng yang tidak positif seperti yang banyak beredar saat ini? dan lihat beberapa tahun lagi. dan perhatikan bentuk orientasi mereka. mereka menjadi sangat rapuh. karena lagu berisi kata-kata. Kata-kata akan menstimulus otak untuk melakukan apa yang dikatakan lagu. makanya ada yang begitu bersemangat saat mendengarkan lagu idealisnya Iwan Fals dan ada yang menjadi cengeng karena sering mendengar lagu-lagu cinta yang sering mengatakan kata hancur hatiku, patah arang, bahkan patah kaki *yg patah kaki becanda :D
jadi, mari lebih pintar untuk memilih lagu dan musik yang masuk ke telinga kita. karena musik dan lagu itu seperti virus. menyebar dengan cepat di dalam kepala lalu menghinfeksi hati. ;)
NB:
1. ini pendapat pribadi. yang membaca boleh tidak setuju
2. bukan berarti saya anti lagu galau
3. saya masih normal :))
Komentar
Posting Komentar