SAAT SEPATUKU MENGELUH
ini salah satu cerpennya innah, mungkin akan sering ada cerpen-cerpen yang lain yang akan in UPLOAD. buat teman-teman yang sudah mampir ke Blog yang buruk ini, terima kasih banyak! jangan lupa COMMENTnya. :D
SAAT SEPATUKU MENGELUH
Sore yang sangat tenang. Sandikala begitu anggun di barat cakrawala. Memerah layaknya emas yang di gantung tuhan untuk keindahan alam. Kota terus menggeliat dengan pergantian suasana Sore ke Malam. Kehidupan malam pun perlahan terbangun oleh alam dengan bahasa keanggunan dan realitas kesehariannya. Hari yang panjang menimbulkan kelelahan bagi tiap wajah yang menuju rumah. Menjadi tanda bagi sejarah hidup, bahwa hari ini tiap detik telah berganti dan enegi telah saling berpindah untuk suatu kehidupan yang terus berjalan.
Hari ini pinggangku linu. Sepanjang jalan ku kayuh sepedaku pelan, Tidak kuasa rasanya terus mengeluarkan energi untuk mempercepat lajunya. Rumah begitu sepi saat ku sampai. Kubuka gerbang rumah dengan energi-energi terakhirku. Perlahan kutarik nafas, rasa sejuk dan lapang pun memenuhi rongga dada. Ketenangan merasuk saat kuparkir sepeda di halaman rumah sambil memandang jejak matahari sore di langit. Langkah kuyu kuambil menuju undakan tangga yang dihiasi langit sore yang merah keperakan. Sejenak aku duduk untuk mengembalikan tenagaku. Ku coba mengingat-ingat semua yang telah kukerjakan selama di kampus seharian. Deadline Mading, Makalah Karya Ilmiah, News Letter dan tugas statistik yang deadline pada hari yang sama telah selesai. Meski harus membuatku bekerja ekstra dari semalam. Kutarik nafas dalam-dalam, tenang rasanya bisa menyelesaikan semua pekerjaanku tepat waktu. Meski nyaliku sedikit menciut kembali kerena mengingat deadline esok harinya yang harus kukerjakan malam ini.
Namun, saat lamunan terus menggoda untuk di telusuri, tiba-tiba kurasakan ada yang hangat di ujung kaki, kemudian perlahan menjalar hingga tumit, makin lama makin panas, awalnya ku anggap hal itu biasa saja, dan akupun asyik menyusuri tiap lamunanku. Tapi saat panas membara semakin menggigit saja rasanya, akupun panik. Kerena terasa mendesak mataku langsung teralih ke kakiku yang yang menyala-nyala dengan kobaran yang menakutkanku. Sepatuku terbakar. Aku meronta dan mencoba melepaskan sepatu yang kukenakan. Tapi terlambat karena tiba-tiba sudah ada lubang hitam menganga yang menarikku.
Sakit kurasakan saat tubuhku masuk dalam lubang hitam. Tulangku terasa lepas, tarikannya menghimpit, badanku di tekan seperti di press dalam mesin presto. Kesadaranku muncul, Namun aku makin tidak percaya pada apa yang sedang kulihat, saat Frame-frame masa lalu berkelebat begitu cepat di depanku. sedangkan seluruh tubuhku terus remuk oleh gesekan yang entah dari mana asalnya terus-menerus mendesakku. kuingat untuk beristigfar ”astagfirullahaladziiim..., apa aku telah mati?” seruku dalam hati. ”mungkinkah ruh ku sedang melewati atmosphere bumi yang tekanannya sangat tinggi hingga terasa menyusutkan badanku?”. Kupejamkan mata dan terus berdzikir. Kuharap ALLAH masih menghitung pahala dzikirku meski aku telah meninggal. ”yeah, Siapa tahu dosaku bisa berkurang dan timbangan kebaikanku akan semakin berat, semoga malaikat mencatatnya. Amin!”
Aku menoleh ke kanan-kiri dalam cepatnya tarikan lubang hitam dengan keyakinan ”pasti ada malaikat di sini” namun harapanku tidak kunjung terwujud. Tidak ada siapa-siapa di sekitarku. Kepanikan belum juga berhasil kuatasi. Sedangkan tulang-belulangku semakin copot saja rasanya. Tetapi, di kejauhan, di antara frame-frame yang bergerak cepat, ada cahaya yang menyilaukan, dan pusaran hitam ini pun terasa semakin cepat melaju. Dan begitu cepat, Sehingga dalam sekejab tidak kurasa badanku tersedot.
”Dubbkkhh!!!” suara tubuhku terjatuh begitu keras menindih tanah. Aku tidak mengerti lagi ini apa yang sedang ku alami. Aku disiksa secara perlahan dengan badan yang telah remuk dan berdarah-darah. Beberapa saat aku tidak sadarkan diri, ”ini sangat membantu”, desahku dalam hati. aku seperti tertidur pulas untuk mengembalikan kekuatan. Namun aku segera kecewa karena saat kubuka mata untuk pertama kali setelah jatuh dari pusaran cahaya, mataku dikejutkan oleh cahaya matahari dengan rerumputan yang menjadi karpet hijau nyaman di tengah keprihatinan yang terlihat pada tubuhku sendiri.
Lututku memar hebat, warna ungu kehitamannya membuatku merinding. Dan saat mulai kugerakkan, sendi antara tulang betis dan tulang pahaku berdecit seperti as yang tidak pernah di oliin. Aku hanya bisa meringis kesakitan sendiri ngilu. Kutoleh ke kanan dan kekiri, hanya padang rumput luas yang kutemui dan aku ada di sisi bukit. Meringis seperti terbuang. Kutarik nafasku lagi. ”Hmmm...” sejuk, matahari sore, dan angin semilir di hiasi padang rumput luas serta langit biru yang di gantungi cumulus-cumulus kecil. ”Mungkin aku sedang terdampar di sebuah padang prairi. Di sekitar amerika. Hm? Bisa juga di suatu tempat di italia atau perancis”. Tapi apalah guna berada di tempat-tempat itu kalau sekarang saja aku tidak menemukan seorangpun yang dapat menolongku disini.
Terdampar di sebuah bukit, tidak ada pohon dan manusia, hanya ilalang yang mengelilingi. Tapi dalam ketenanganku, aku tersontak melihat benda aneh di tengah bukit. Sayup kudengar isakan tangis yang perlahan begitu memilukan sehingga aku teralih hanya pada suara itu saja. Tetapi suara itu terasa aneh karena terdengar lucu. Lucu karena seperti suara boneka-boneka bayi rusak, seolah-olah ada bayi di tengah bukit dan menangis dengan begitu pilu, tapi tidak terdengar pilu karena suaraanya yang aneh. Meski Itu Menurut standarku sendiri.
Rasa penasaranku menjadi-jadi. Ku coba merangkak untuk mencari sumber suara tadi di tengah ilalang yang tumbuh di sekitarku. Meski Ilalang masih membatasi pandanganku melihat ke segala arah. Isakan tangis masih terdengar. Aku pun menyadari badanku kesakitan teramat sangat. Meriang di sertai demam dan pegal. Mungkin lebih mirip ikan yang baru di presto. Lembek dan tak berdaya melihat kakiku. Tapi aku tetap berusaha. dengan kaki yang lemah dan gemetar aku berdiri memandang ke kanan dan kiri. Hamparan hijau dan putih masih membatasi pandanganku. Jelas kulihat dibawah sana, ladang gandum terhampar luas hingga cakrawala. Mengingatkannku pada daerah pertanian di luar negeri dengan jalan raya di tengahnya. Terpikir untuk ke sana, Tapi aku masih di atas bukit yang penuh ilalang. Tempat itu begitu jauh untuk digapai dengan keadaanku seperti sekarang ini.
Aku terdiam takjub. Suara isakan itu masih terdengar. Segera ku cari asal suara itu dengan mata yang tak lepas memandang ke bawah akar-akar ilalang. Kupikir, ”mungkinkah ada anak kecil kesasar disini dan dia begitu panik karena tidak menemukan seorangpun di sampingnya? Oh, kasian banget anak kecil itu. Dia pasti butuh seseorang!” Tapi di satu sisi aku sendiri bingung. Bagaimana caranya aku dapat membantu anak itu kalau aku sendiri saja tidak tahu sebenarnya aku sedang dimana?. Tapi kecemasan itu segera ku enyahkan. Kupikir, meski akan sulit mengantar anak itu pulang, paling tidak aku akan bisa menghiburnya dan menyuruhnya untuk tidak terus menangis lagi, suaranya membuatku takut saja terdampar di daerah antah berantah ini. ”Hmmm, kalo aku punya doraemon sih, mungkin akan lebih tidak kesepian aku disini. Aku bisa minta bantuan padanya. Hehe, pinjem baling-baling bambu untuk keliling-keliling kayaknya ide bagus”
Mataku siaga mengawasi tiap gerakan diantara ilalang, terus menerus langkah gontaiku menyusurinya hingga tidak terasa sudah tujuh kali aku mengelilingi bukit. Aku menyadarinya setelah jejak kakiku berbekas di tengah-tengah rumput yang begitu hijau di antara ilalang. Sempat terpikir olehku untuk menyerah saja karena aku hanya berputar di tempat yang sama sedari tadi. kuamati matahari yang akan mendekati ufuk, tapi iba rasanya jika terus mendengar tangisan itu lagi. Yang jelas, aku dan suara itu sendirian disini. aku pun tidak tahu akan nasibku seperti apa?. paling tidak, kalau aku menemukan anak yang bersuara itu, mungkin aku dan dia akan dapat saling menghibur di tengah padang antah berantah ini.
Kuputar Otakku, untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini. Kucoba mengacu pada ”STANDAR PENCARIAN ORANG HILANG” ala aku sendiri. perlahan kuanalisis. ”tadi aku sudah muter kanan-kiri. Trus, nihil. Nggak ada orang. Hmmm.. cuman sekumpulan ulet bulu aja sih yang lagi makan daun. bukan orang itu mah namanya”. Kukedutkan dahiku ”Logikanya, dalam jarak 100 meter paling tidak daerah yang di curigai sudah disisir. Di kaki bukit rasanya tidak mungkin. Intuisiku bilang kalau suara itu berasal dari atas bukit. Hah? Apa?! Di atas bukit? Yah! Aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Sedari tadi aku terlalu fokus dengan menyisiri bukit untuk mencarinya”. Akupun mulai mencoba mendaki bukit. Dan benar saja, Seiring dengan matahari yang mulai tenggelam, aku merasa semakin dekat dengan sumber tangisan itu.
Kontan saja aku segera menajamkan pandangan dan pendengaranku. Meski, Hari yang sudah gelap membuatku sedikit khawatir, bisa saja ada binatang buas di sekitar sini yang akan memangsa anak kecil itu. Aku tidak ingin itu terjadi. Mata yang kupicingkan semakin awas saat perlahan kudaki bukit dengan susah payah. Sesekali kakiku tersandung batu hingga aku harus berhenti untuk menahan rasa sakit dari lututku yang putus. Dan dengan susah payah aku pun sampai di atas bukit.
Tak ada yang bisa kuucapkan lagi. Karena aku malah menemukan mahluk aneh dengan mata bulat yang hampir keluar sedang memandangiku tajam. Air matanya tidak henti keluar, air dari hidung masuk ke mulutnya. Rasa jijik membautku menelan ludah ku sendiri. Ku coba untuk istigfar, agar aku lebih tenang. menyadari bahwa suara yang kudengar sedari tadi adalah suara dari mahluk aneh di hadapanku, membuatku takut dan panik.
”Mahluk di depanku bukan manusia, Apa mungkin dia hantu, Setan, Jin, Iblis, begitu?” petanyaan itu terlontar dalam pikiranku. Bulu kudukku sontak bagai pasukan pengibar bendera 17an berdiri, aku merinding setengah mati, ketegangan meliputiku. Sesaat aku sadar ”kalau ngaca muka ku pasti sepucat tembok nih! Ah, kok aku ngaco sih?! Hmmm... ”. Aku nanar, berputar memandang ke kiri-kanan, atas-bawah, tapi ”tidak! Percuma.” Aku tidak akan bisa kabur dan berteriak minta tolong ke siapapun. Aku sendirian di sini. Aku segera manarik nafas lagi, menyadari mahluk aneh di hadapanku terus memandang dengan mata bola pimpongnya yang bulat bersinar, ini hal teraneh yang pernah kutemui seumur hidup. Dan jika ini benar-benar terjadi ”maksudku aku tidak sedang bermimpi” akankah aku akan berakhir di tangan Mahluk antah berantah ini? ”aku akan disiksa oleh mahluk antah berantah yang ada di depanku”. Astagfirullah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.
Karena aku tidak mungkin lari dan menghindar dari hal ini, aku mencoba mendekati mahluk yang serupa dengan kodok berbaju sepatu, tapi lelucon itu segera kutampik. Bahkan berpikir kalau mahluk di depanku ini mirip dengan peri rumah milik Si Potter pun aku tidak berani. ”he, soalnya kalau sudah menganggap dia mirip Dobby si peri rumah, aku pasti tidak akan awas lagi. Karena aku ingat kalau menghadapi orang baru atau suasana baru peraturan wajib adalah selalu ”mawas diri” dalam artian hati-hati menghadapi hal baru di depan mata. Karena bisa ada 2 kemungkinan disitu yaitu selamat atau Nyawa jadi taruhan! Hiiiii... kok jadi serem yah?”. aku menutup mulutku sambil mendekatinya perlahan. Aku takut tertawa.
Aku telah ada di depannya. Kupandangi lekat mahluk aneh itu. Pikiranku menjadi liar lagi karena membayangkan dari mana asal mahluk di depanku. Rupa dan bentuknya terlalu aneh untuk di bayangkan. Aku hanya mengenalinya seperti sepatu karena tali dan lubang kaki yang ada di atasnya menga-nga. Ada otak di tengahnya, aku bergindik saat cairan di otaknya tiba-tiba meledak-ledak seperti buih. Aku menghindar beberapa langkah karena ada bau amis yang menyebar setelah cairan-cairan itu jatuh ke rerumputan. Tempat tali sepatu mengikat berubah menjadi mata, dan ujung depan yang runcing tempat jari-jari menjadi mulut.
”Hm? Aku pasti sedang bermimpi. Kurasa mahluk seperti ini tidak akan ada dimuka bumi. Kalaupun ada pasti hasil dari ide gila profesor-profesor yang nggak ada kerjaan” kuperhatikan lagi mahluk itu dengan seksama. Sambil mengingat khayalan masa kecilku tentang Mahluk Dari Planet sepatu yang datang memburuku karena tidak pernah mencuci sepatu.
Mahluk itu tiba-tiba menggeliat, kurasakan emosinya tiba-tiba naik, aku mulai mundur, karena sadar kalau itu ancaman, mata belo putihnya tiba-tiba memerah, matanya tajam memandang lurus ke arahku yang ketakutan. Aku sendiri terjaduh karena karena tersandung batu yang tidak kulihat saat aku mundur sedikit-demi-sedikit.
Si Mahluk aneh berdiri, langkah kakinya berat berjalan menuju ke arahku. Kulihat matanya tak lepas. Merah, dan sangat marah.
”puas membuatku menangis?” katanya sambil mengusap cairan yang keluar dari hidungnya yang berbentiuk tali sepatu.
”dia benar-benar mirip boneka nggak jadi” ujarku dalam hati. Aku tersenyum dan tidak mempedulikan ucapannya. Aku terlalu terpaku mengamati bentuk anehnya yang mengundangku untuk tidak berhenti berkomentar.
”Dd-ddasar, manusia tidak tahu terima kasih! Kalian serakah, pongah, bejat!” kemarahannya menyadarkannku kalau dia benar-benar sedang sanga-sangat serius marah padaku.
”emmm, k-kkamu se-sserius mm-marah???” ucapku gagu ”a-apa salah saya ama k-kkamu??”
“Bos ngomong seperti tidak pernah salah saja. Saya ini sepatumu bos! Sepatu yang kau beli dua tahun lalu, dan hingga sekarang belum bos cuci juga!” ratapannya menggema di seantero bukit yang telah gelap. Bintang-bintang telah keluar dan bulan purnama telah muncul. Menjadi lampu alam yang benderang di padang tak bertuan ini.
Aku segera sadar setelah mengamatinya dengan seksama. Dia memang sepatuku. Memang jadi sulir dikenali karena setelah memodifikasi diri seperti yang terlihat, dan karena adanya kotoran serta sobekan memenuhi beberapa sisinya. Aku jadi ingat, mulut depannya dulu pernah ku lem karena hampir lepas, jadi setelah memodifikasi dirinya ”mulut Buaya” yang dulu pernah kujuluki ternyata benar-benar mirip mulut buaya karena sisa lem yang blepotan di sisi depan sepatu yang terlepas.
Aku sudah tidak pernah mencucinya lagi karena kondisinya yang sudah tidak layak pakai, tapi karena ”keanehanku” aku selalu memakainya dengan melem bagian depan sepatuku yang rusak dengan lem kayu agar daya lekatnya kuat. Aku sadar bentuknya akan sangat jelek dan blepotan di bagian depan sepatu yang ku lem, tapi itulah, aku selalu merasa nyaman memakainya meski wujudnya seburuk apapun. Meski sepatu baruku bagus. Aku nyaman memakainya meski dia butut dan tidak layak pakai lagi karena sol yang aus dan tipis.
”...” tidak ada yang bisa ku ucapkan untuk menjawab dan membantah. Aku hanya diam terpatu mengamati sepatuku.
”ingat tidak bos?” ucapnya dengan wajah yang ramah sambil memandang ke bintang-bintang yang memenuhi langit, aku yakin dia sedang mengingat masa lalu, airmukanya berubah menjadi tenang tanpa amarah. ”waktu awal bos masuk kuliah, saya selalu temani bos berjalan dari taman indah* sampai UNRAM*. Melewati jalan Sriwijaya* dan Majapahit* yang penuh bunga saat bulan september sampi Novermber. Bos pasti tidak akan lupa dengan hal itu. Saat itu bos terpaku sambil memuji indahnya bunga-bunga yang sinari matahari pagi. Tapi bos tidak pernah sadar, langkah yang bos ambil saat keluar komplek sampai melangkahkan kaki di jalan Sriwijaya – Majapahit, saya selalu melindungi kakinya bos. Panas tidak menjadi soal, hujan bukan halangan, bos layaknya mesin mobil bagi saya, dan saya oli yang akan terus menjaga bos.
Saya sadar, saat umur telah memakan kemampuan dan mengikis tubuh saya, bos tetap setia memakai saya, dan saya sadar kalau bos sangat menyayangi saya. Tapi kenapa saya tidak dicuci bos? Perlakuan bos yang tidak pernah mencuci saya membuat saya penasaran, karena saya merasa bos tidak menganggap saya. Bos hanya menganggap saya sepatu biasa. Bukan sepatu yang selalu menemani hari-harinya bos. Padahal, pengabdian saya besar. Dari semester 1 – 4 saya menemani bos kemanapun. Kurang berartikah hari-hari itu bos? Huk... huk.. k-khuk...” tangisnya memecah lagi, air matanya mengalir dari kedua ujung matanya. Aku terkesima menatap Mahluk di depanku. Meski aneh dan lucu, namun menyentuh. Tapi jika menyadari hal ini tidak mungkin, bahwa di dunia ini tidak ada mahluk berbentuk sepatu, aku jadi sadar mungkin ini hanya mimpiku saja.
”hmmm.. aku minta maaf. Jujur, meski kamu sudah berubah jadi sepatu mulut buaya, dan banyak yang menyuruhku untuk tidak memakaimu lagi, kamu tetap kupakai. Kamu punya tempat dalam hidupku. Yeah, aku sadar ketika Perut dan mulut buayamu bocor saat aku melewati genangan air setelah hujan deras di belakang rektorat. Hingga... he, aku masuk angin dan jatuh sakit karena kakiku terendam air. Hmmm... tapi itu tidak jadi soal, kamu lebih berarti dari itu semua.
Sebenarnya, aku heran kenapa kamu harus sesedih ini hanya karena aku tidak pernah mencucimu. Hmmm... ” aku mengeryitkan keningku. Larut dalam pemikiranku sendiri. Aku masih mendengar sesenggukannya. Mata merahnya masih lurus memandang rerumputan di sela kaki mungilnya. Sejenak aku terkesima dan berujar ”pasti bisa jadi boneka yang lucu.”
Aku masih berpikir betapa miripnya dia dengan Dobby* perasaan dan sikapnya serupa meski mahluk di depanku bermulut panjang seperti buaya, tapi bentuk kepalanya seperti anjing karena panjang, (mirip ”guvi” anjing di serial kartun Mickey Mouse) dan tubuhnya gendut berisi seperti kodok. Tapi kalau di amati lagi, dia lebih mirip boneka percobaan gagal yang di buat ahli peniru boneka amatiran. Imaginatif, tapi tidak komersil. Lucu, tapi rada Riskan. Bentuknya kurang flexibel.
”jadi kenapa harus menangis lagi?” tanyaku sambil membujunya. Tubuhnya bereaksi pelan bak Slowmotion, begitu bertahap dan kontras dengan ekspresi mukanya. Ku amati dengan seksama tiap detail ekspresi dan gerakannya. Dan kusimpulkan ”menggemaskan!”
”kapan saya di cuci bos” tanyanya pelan dan penuh harap. Tapi kulihat ekspresinya biasa. Sepertinya dia sudah menduga aku tidak akan mencucinya.
”aku tidak akan mencucimu. Aku lebih membutuhkanmu untuk berjalan dari pada kamu harus di cuci. Anggap saja kotoran yang menempel di tubuhmu adalah kenangan dari sejarah hidupku yang membekas padamu. Menjadi pengingat saat aku lemah, menjadi cambuk saat aku butuh semangat. Kamu mengantarku melewati hari-hari berat ku, aku ingin kamu menyimpannya menjadi detil masa laluku. Sobekan adalah tanda bahwa tidak ada yang abadi. Kamupun begitu mulut buayaku... ” aku sadar telah mengeluarkan isi hatiku. Bahwa selama menjalani 4 semester yang telah lalu, banyak hal yang telah kupelajari dan kuserap. Hal itu tidak mudah. Aku sendiri tidak melaluinya seperti jalan tol yang bebas hambatan.
”sudah saya duga bos pasti akan menjawab seperti itu. Orang memang sering tidak sadar tentang banyak hal. Dan salah satunya keberadaan benda seperti saya dalam kehidupan. Padahal selama bertahun-tahun saya melayani bos, saya tidak mengeluh. Saya tetap melindungi kakinya bos.
Ketika saya terus terinjak dan terkikis panasnya aspal, becek, terendam genangan air, saya tetap setia. Melindungi tanpa dipedulikan. Padahal memandang ke bawah akan membuat orang rendah hati. Saya membawa bos kesini bukan hanya untuk mendengarkan ocehan dan keluhan saya. Tapi ini lebih dari itu. Saya ingin bos sadar, bahwa benda yang paling sering bos gunakanlah yang harus sering dibersihkan dan dipedulikan. Saat dia rusak, bos sendiri yang akan terganggu. Bos harus memikirkan hal ini... ”
”Buzz”
si mulut buaya hilang dan dengan cepat aku segera di tarik oleh lubang hitam lagi. Sakit bak si steam dalam mesin presto kurasakan lagi. Rasanya seperti berhari-hari berada dalam lorong yang begitu panjang. Aku meronta dengan dengan keidakmampuanku. Kucoba berteriak keras hingga dadaku rasanya akan pecah dengan tekanan suara yang kutarik.
Dan saat tersadar, kutemukan diriku terlentang jatuh di bawah undakan tangga. Saat itu hari telah malam. Bintang bertabur memenuhi langit, awan semarak dengan warna putih pucatnya yang di timpahi cahaya bulan. ”alhamdulillah... ” gumamku dalam hati. Kutarik nafas penuh syukur, dan masuk ke dalam rumah yang masih gelap karena kakak dan adikku belum pulang. Suhu udara yang dingin membuatku tidak nyaman. Badanku nyeri, ngilu, dan panas. Aku menggigil. Dan aku segera menuju kamar setelah menyalakan lampu rumah.
NB:
•Nasib si Mulut Buaya tetap sama. Tidak pernah kucuci. Kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk bersentuhan dengan air. Bukan karena aku malas mencucinya. Kadang sesekali aku memakainya lagi jika aku ingin benar-benar down to earth. Tapi yang paling berharga adalah kesetiaannya menemaniku pada awal masa kulian hingga aku semester 4. masa itu adalah hari-hari terberat dan sangat kritis. Nasehat terbaiknya si mulut buaya ”saya ingin bos sadar, bahwa benda yang harus sering di perhatikan adalah benda yang paling sering bos gunakan”. Aku tahu. Seperti mobil yang selalu di perhatikan bahan bakarnya. Seperti otak yang selalu di upgrade, dan diri yang harus selalu di introspeksi. Dan yang terpenting, selalu ingat dengan apa yang menjadi ”what the destination of this life”.
•Cerita ini ter-inspirasi saat sepatuku yang baru kecelup di parit saat akan ke bukit untuk menengok ternak milik kakek hamid saat PKL di sumbawa. Si mulut buaya menjadi teman setia saat aku harus jalan sekitar 2 km dari rumah tiap hari. Yah, saat orang-orang berpikir untuk bermanja dengan kendaraan bermotor, aku selalu butuh share dengan lingkungan sekitarku tentang apapun yang tidak dapat diceritakan oleh mulutku dengan berjalan kaki. Aku butuh berinteraksi. Dan saat aku berjalan dan menjejak, Di situlah hidup berbicara pada ku. Mengajari cara mengahargai orang lain dan alam.
•Sepatu terbaruku, ”Merk dagangnya: airwalk, no 39, warna hitam, dasarnya putih di campur merah. Baru kucuci setelah terendam saat kepeleset di parit licin waktu ke bukit. ”itupun Aku di olokin oleh keluarga angkatku”.
•Cerita ini di ambil baik-baiknya saja. Banyak kebiasaan buruk yang dilarang untuk di ikuti. Semoga bisa menjadi bahan pikiran, olokan dan kritikan untuk penulis.
•Kritik dan saran sudilah dikirim ke email saya di aibubble@yahoo.co.id kritik dari teman-teman yang membaca adalah motor berkecepatan tinggi yang akan mengalahkan Valentino Rossi ”kalo di ajak balab” hehe.. untuk kemajuan anak yang aneh ini.
* taman indah = komplek tempat ku tinggal
* UNRAM = universitas mataram
* jalan Sriwijaya = jalan di kota mataram.
* Jalan Majapahit = jalan di kota mataram
SAAT SEPATUKU MENGELUH
Sore yang sangat tenang. Sandikala begitu anggun di barat cakrawala. Memerah layaknya emas yang di gantung tuhan untuk keindahan alam. Kota terus menggeliat dengan pergantian suasana Sore ke Malam. Kehidupan malam pun perlahan terbangun oleh alam dengan bahasa keanggunan dan realitas kesehariannya. Hari yang panjang menimbulkan kelelahan bagi tiap wajah yang menuju rumah. Menjadi tanda bagi sejarah hidup, bahwa hari ini tiap detik telah berganti dan enegi telah saling berpindah untuk suatu kehidupan yang terus berjalan.
Hari ini pinggangku linu. Sepanjang jalan ku kayuh sepedaku pelan, Tidak kuasa rasanya terus mengeluarkan energi untuk mempercepat lajunya. Rumah begitu sepi saat ku sampai. Kubuka gerbang rumah dengan energi-energi terakhirku. Perlahan kutarik nafas, rasa sejuk dan lapang pun memenuhi rongga dada. Ketenangan merasuk saat kuparkir sepeda di halaman rumah sambil memandang jejak matahari sore di langit. Langkah kuyu kuambil menuju undakan tangga yang dihiasi langit sore yang merah keperakan. Sejenak aku duduk untuk mengembalikan tenagaku. Ku coba mengingat-ingat semua yang telah kukerjakan selama di kampus seharian. Deadline Mading, Makalah Karya Ilmiah, News Letter dan tugas statistik yang deadline pada hari yang sama telah selesai. Meski harus membuatku bekerja ekstra dari semalam. Kutarik nafas dalam-dalam, tenang rasanya bisa menyelesaikan semua pekerjaanku tepat waktu. Meski nyaliku sedikit menciut kembali kerena mengingat deadline esok harinya yang harus kukerjakan malam ini.
Namun, saat lamunan terus menggoda untuk di telusuri, tiba-tiba kurasakan ada yang hangat di ujung kaki, kemudian perlahan menjalar hingga tumit, makin lama makin panas, awalnya ku anggap hal itu biasa saja, dan akupun asyik menyusuri tiap lamunanku. Tapi saat panas membara semakin menggigit saja rasanya, akupun panik. Kerena terasa mendesak mataku langsung teralih ke kakiku yang yang menyala-nyala dengan kobaran yang menakutkanku. Sepatuku terbakar. Aku meronta dan mencoba melepaskan sepatu yang kukenakan. Tapi terlambat karena tiba-tiba sudah ada lubang hitam menganga yang menarikku.
Sakit kurasakan saat tubuhku masuk dalam lubang hitam. Tulangku terasa lepas, tarikannya menghimpit, badanku di tekan seperti di press dalam mesin presto. Kesadaranku muncul, Namun aku makin tidak percaya pada apa yang sedang kulihat, saat Frame-frame masa lalu berkelebat begitu cepat di depanku. sedangkan seluruh tubuhku terus remuk oleh gesekan yang entah dari mana asalnya terus-menerus mendesakku. kuingat untuk beristigfar ”astagfirullahaladziiim..., apa aku telah mati?” seruku dalam hati. ”mungkinkah ruh ku sedang melewati atmosphere bumi yang tekanannya sangat tinggi hingga terasa menyusutkan badanku?”. Kupejamkan mata dan terus berdzikir. Kuharap ALLAH masih menghitung pahala dzikirku meski aku telah meninggal. ”yeah, Siapa tahu dosaku bisa berkurang dan timbangan kebaikanku akan semakin berat, semoga malaikat mencatatnya. Amin!”
Aku menoleh ke kanan-kiri dalam cepatnya tarikan lubang hitam dengan keyakinan ”pasti ada malaikat di sini” namun harapanku tidak kunjung terwujud. Tidak ada siapa-siapa di sekitarku. Kepanikan belum juga berhasil kuatasi. Sedangkan tulang-belulangku semakin copot saja rasanya. Tetapi, di kejauhan, di antara frame-frame yang bergerak cepat, ada cahaya yang menyilaukan, dan pusaran hitam ini pun terasa semakin cepat melaju. Dan begitu cepat, Sehingga dalam sekejab tidak kurasa badanku tersedot.
”Dubbkkhh!!!” suara tubuhku terjatuh begitu keras menindih tanah. Aku tidak mengerti lagi ini apa yang sedang ku alami. Aku disiksa secara perlahan dengan badan yang telah remuk dan berdarah-darah. Beberapa saat aku tidak sadarkan diri, ”ini sangat membantu”, desahku dalam hati. aku seperti tertidur pulas untuk mengembalikan kekuatan. Namun aku segera kecewa karena saat kubuka mata untuk pertama kali setelah jatuh dari pusaran cahaya, mataku dikejutkan oleh cahaya matahari dengan rerumputan yang menjadi karpet hijau nyaman di tengah keprihatinan yang terlihat pada tubuhku sendiri.
Lututku memar hebat, warna ungu kehitamannya membuatku merinding. Dan saat mulai kugerakkan, sendi antara tulang betis dan tulang pahaku berdecit seperti as yang tidak pernah di oliin. Aku hanya bisa meringis kesakitan sendiri ngilu. Kutoleh ke kanan dan kekiri, hanya padang rumput luas yang kutemui dan aku ada di sisi bukit. Meringis seperti terbuang. Kutarik nafasku lagi. ”Hmmm...” sejuk, matahari sore, dan angin semilir di hiasi padang rumput luas serta langit biru yang di gantungi cumulus-cumulus kecil. ”Mungkin aku sedang terdampar di sebuah padang prairi. Di sekitar amerika. Hm? Bisa juga di suatu tempat di italia atau perancis”. Tapi apalah guna berada di tempat-tempat itu kalau sekarang saja aku tidak menemukan seorangpun yang dapat menolongku disini.
Terdampar di sebuah bukit, tidak ada pohon dan manusia, hanya ilalang yang mengelilingi. Tapi dalam ketenanganku, aku tersontak melihat benda aneh di tengah bukit. Sayup kudengar isakan tangis yang perlahan begitu memilukan sehingga aku teralih hanya pada suara itu saja. Tetapi suara itu terasa aneh karena terdengar lucu. Lucu karena seperti suara boneka-boneka bayi rusak, seolah-olah ada bayi di tengah bukit dan menangis dengan begitu pilu, tapi tidak terdengar pilu karena suaraanya yang aneh. Meski Itu Menurut standarku sendiri.
Rasa penasaranku menjadi-jadi. Ku coba merangkak untuk mencari sumber suara tadi di tengah ilalang yang tumbuh di sekitarku. Meski Ilalang masih membatasi pandanganku melihat ke segala arah. Isakan tangis masih terdengar. Aku pun menyadari badanku kesakitan teramat sangat. Meriang di sertai demam dan pegal. Mungkin lebih mirip ikan yang baru di presto. Lembek dan tak berdaya melihat kakiku. Tapi aku tetap berusaha. dengan kaki yang lemah dan gemetar aku berdiri memandang ke kanan dan kiri. Hamparan hijau dan putih masih membatasi pandanganku. Jelas kulihat dibawah sana, ladang gandum terhampar luas hingga cakrawala. Mengingatkannku pada daerah pertanian di luar negeri dengan jalan raya di tengahnya. Terpikir untuk ke sana, Tapi aku masih di atas bukit yang penuh ilalang. Tempat itu begitu jauh untuk digapai dengan keadaanku seperti sekarang ini.
Aku terdiam takjub. Suara isakan itu masih terdengar. Segera ku cari asal suara itu dengan mata yang tak lepas memandang ke bawah akar-akar ilalang. Kupikir, ”mungkinkah ada anak kecil kesasar disini dan dia begitu panik karena tidak menemukan seorangpun di sampingnya? Oh, kasian banget anak kecil itu. Dia pasti butuh seseorang!” Tapi di satu sisi aku sendiri bingung. Bagaimana caranya aku dapat membantu anak itu kalau aku sendiri saja tidak tahu sebenarnya aku sedang dimana?. Tapi kecemasan itu segera ku enyahkan. Kupikir, meski akan sulit mengantar anak itu pulang, paling tidak aku akan bisa menghiburnya dan menyuruhnya untuk tidak terus menangis lagi, suaranya membuatku takut saja terdampar di daerah antah berantah ini. ”Hmmm, kalo aku punya doraemon sih, mungkin akan lebih tidak kesepian aku disini. Aku bisa minta bantuan padanya. Hehe, pinjem baling-baling bambu untuk keliling-keliling kayaknya ide bagus”
Mataku siaga mengawasi tiap gerakan diantara ilalang, terus menerus langkah gontaiku menyusurinya hingga tidak terasa sudah tujuh kali aku mengelilingi bukit. Aku menyadarinya setelah jejak kakiku berbekas di tengah-tengah rumput yang begitu hijau di antara ilalang. Sempat terpikir olehku untuk menyerah saja karena aku hanya berputar di tempat yang sama sedari tadi. kuamati matahari yang akan mendekati ufuk, tapi iba rasanya jika terus mendengar tangisan itu lagi. Yang jelas, aku dan suara itu sendirian disini. aku pun tidak tahu akan nasibku seperti apa?. paling tidak, kalau aku menemukan anak yang bersuara itu, mungkin aku dan dia akan dapat saling menghibur di tengah padang antah berantah ini.
Kuputar Otakku, untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini. Kucoba mengacu pada ”STANDAR PENCARIAN ORANG HILANG” ala aku sendiri. perlahan kuanalisis. ”tadi aku sudah muter kanan-kiri. Trus, nihil. Nggak ada orang. Hmmm.. cuman sekumpulan ulet bulu aja sih yang lagi makan daun. bukan orang itu mah namanya”. Kukedutkan dahiku ”Logikanya, dalam jarak 100 meter paling tidak daerah yang di curigai sudah disisir. Di kaki bukit rasanya tidak mungkin. Intuisiku bilang kalau suara itu berasal dari atas bukit. Hah? Apa?! Di atas bukit? Yah! Aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Sedari tadi aku terlalu fokus dengan menyisiri bukit untuk mencarinya”. Akupun mulai mencoba mendaki bukit. Dan benar saja, Seiring dengan matahari yang mulai tenggelam, aku merasa semakin dekat dengan sumber tangisan itu.
Kontan saja aku segera menajamkan pandangan dan pendengaranku. Meski, Hari yang sudah gelap membuatku sedikit khawatir, bisa saja ada binatang buas di sekitar sini yang akan memangsa anak kecil itu. Aku tidak ingin itu terjadi. Mata yang kupicingkan semakin awas saat perlahan kudaki bukit dengan susah payah. Sesekali kakiku tersandung batu hingga aku harus berhenti untuk menahan rasa sakit dari lututku yang putus. Dan dengan susah payah aku pun sampai di atas bukit.
Tak ada yang bisa kuucapkan lagi. Karena aku malah menemukan mahluk aneh dengan mata bulat yang hampir keluar sedang memandangiku tajam. Air matanya tidak henti keluar, air dari hidung masuk ke mulutnya. Rasa jijik membautku menelan ludah ku sendiri. Ku coba untuk istigfar, agar aku lebih tenang. menyadari bahwa suara yang kudengar sedari tadi adalah suara dari mahluk aneh di hadapanku, membuatku takut dan panik.
”Mahluk di depanku bukan manusia, Apa mungkin dia hantu, Setan, Jin, Iblis, begitu?” petanyaan itu terlontar dalam pikiranku. Bulu kudukku sontak bagai pasukan pengibar bendera 17an berdiri, aku merinding setengah mati, ketegangan meliputiku. Sesaat aku sadar ”kalau ngaca muka ku pasti sepucat tembok nih! Ah, kok aku ngaco sih?! Hmmm... ”. Aku nanar, berputar memandang ke kiri-kanan, atas-bawah, tapi ”tidak! Percuma.” Aku tidak akan bisa kabur dan berteriak minta tolong ke siapapun. Aku sendirian di sini. Aku segera manarik nafas lagi, menyadari mahluk aneh di hadapanku terus memandang dengan mata bola pimpongnya yang bulat bersinar, ini hal teraneh yang pernah kutemui seumur hidup. Dan jika ini benar-benar terjadi ”maksudku aku tidak sedang bermimpi” akankah aku akan berakhir di tangan Mahluk antah berantah ini? ”aku akan disiksa oleh mahluk antah berantah yang ada di depanku”. Astagfirullah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.
Karena aku tidak mungkin lari dan menghindar dari hal ini, aku mencoba mendekati mahluk yang serupa dengan kodok berbaju sepatu, tapi lelucon itu segera kutampik. Bahkan berpikir kalau mahluk di depanku ini mirip dengan peri rumah milik Si Potter pun aku tidak berani. ”he, soalnya kalau sudah menganggap dia mirip Dobby si peri rumah, aku pasti tidak akan awas lagi. Karena aku ingat kalau menghadapi orang baru atau suasana baru peraturan wajib adalah selalu ”mawas diri” dalam artian hati-hati menghadapi hal baru di depan mata. Karena bisa ada 2 kemungkinan disitu yaitu selamat atau Nyawa jadi taruhan! Hiiiii... kok jadi serem yah?”. aku menutup mulutku sambil mendekatinya perlahan. Aku takut tertawa.
Aku telah ada di depannya. Kupandangi lekat mahluk aneh itu. Pikiranku menjadi liar lagi karena membayangkan dari mana asal mahluk di depanku. Rupa dan bentuknya terlalu aneh untuk di bayangkan. Aku hanya mengenalinya seperti sepatu karena tali dan lubang kaki yang ada di atasnya menga-nga. Ada otak di tengahnya, aku bergindik saat cairan di otaknya tiba-tiba meledak-ledak seperti buih. Aku menghindar beberapa langkah karena ada bau amis yang menyebar setelah cairan-cairan itu jatuh ke rerumputan. Tempat tali sepatu mengikat berubah menjadi mata, dan ujung depan yang runcing tempat jari-jari menjadi mulut.
”Hm? Aku pasti sedang bermimpi. Kurasa mahluk seperti ini tidak akan ada dimuka bumi. Kalaupun ada pasti hasil dari ide gila profesor-profesor yang nggak ada kerjaan” kuperhatikan lagi mahluk itu dengan seksama. Sambil mengingat khayalan masa kecilku tentang Mahluk Dari Planet sepatu yang datang memburuku karena tidak pernah mencuci sepatu.
Mahluk itu tiba-tiba menggeliat, kurasakan emosinya tiba-tiba naik, aku mulai mundur, karena sadar kalau itu ancaman, mata belo putihnya tiba-tiba memerah, matanya tajam memandang lurus ke arahku yang ketakutan. Aku sendiri terjaduh karena karena tersandung batu yang tidak kulihat saat aku mundur sedikit-demi-sedikit.
Si Mahluk aneh berdiri, langkah kakinya berat berjalan menuju ke arahku. Kulihat matanya tak lepas. Merah, dan sangat marah.
”puas membuatku menangis?” katanya sambil mengusap cairan yang keluar dari hidungnya yang berbentiuk tali sepatu.
”dia benar-benar mirip boneka nggak jadi” ujarku dalam hati. Aku tersenyum dan tidak mempedulikan ucapannya. Aku terlalu terpaku mengamati bentuk anehnya yang mengundangku untuk tidak berhenti berkomentar.
”Dd-ddasar, manusia tidak tahu terima kasih! Kalian serakah, pongah, bejat!” kemarahannya menyadarkannku kalau dia benar-benar sedang sanga-sangat serius marah padaku.
”emmm, k-kkamu se-sserius mm-marah???” ucapku gagu ”a-apa salah saya ama k-kkamu??”
“Bos ngomong seperti tidak pernah salah saja. Saya ini sepatumu bos! Sepatu yang kau beli dua tahun lalu, dan hingga sekarang belum bos cuci juga!” ratapannya menggema di seantero bukit yang telah gelap. Bintang-bintang telah keluar dan bulan purnama telah muncul. Menjadi lampu alam yang benderang di padang tak bertuan ini.
Aku segera sadar setelah mengamatinya dengan seksama. Dia memang sepatuku. Memang jadi sulir dikenali karena setelah memodifikasi diri seperti yang terlihat, dan karena adanya kotoran serta sobekan memenuhi beberapa sisinya. Aku jadi ingat, mulut depannya dulu pernah ku lem karena hampir lepas, jadi setelah memodifikasi dirinya ”mulut Buaya” yang dulu pernah kujuluki ternyata benar-benar mirip mulut buaya karena sisa lem yang blepotan di sisi depan sepatu yang terlepas.
Aku sudah tidak pernah mencucinya lagi karena kondisinya yang sudah tidak layak pakai, tapi karena ”keanehanku” aku selalu memakainya dengan melem bagian depan sepatuku yang rusak dengan lem kayu agar daya lekatnya kuat. Aku sadar bentuknya akan sangat jelek dan blepotan di bagian depan sepatu yang ku lem, tapi itulah, aku selalu merasa nyaman memakainya meski wujudnya seburuk apapun. Meski sepatu baruku bagus. Aku nyaman memakainya meski dia butut dan tidak layak pakai lagi karena sol yang aus dan tipis.
”...” tidak ada yang bisa ku ucapkan untuk menjawab dan membantah. Aku hanya diam terpatu mengamati sepatuku.
”ingat tidak bos?” ucapnya dengan wajah yang ramah sambil memandang ke bintang-bintang yang memenuhi langit, aku yakin dia sedang mengingat masa lalu, airmukanya berubah menjadi tenang tanpa amarah. ”waktu awal bos masuk kuliah, saya selalu temani bos berjalan dari taman indah* sampai UNRAM*. Melewati jalan Sriwijaya* dan Majapahit* yang penuh bunga saat bulan september sampi Novermber. Bos pasti tidak akan lupa dengan hal itu. Saat itu bos terpaku sambil memuji indahnya bunga-bunga yang sinari matahari pagi. Tapi bos tidak pernah sadar, langkah yang bos ambil saat keluar komplek sampai melangkahkan kaki di jalan Sriwijaya – Majapahit, saya selalu melindungi kakinya bos. Panas tidak menjadi soal, hujan bukan halangan, bos layaknya mesin mobil bagi saya, dan saya oli yang akan terus menjaga bos.
Saya sadar, saat umur telah memakan kemampuan dan mengikis tubuh saya, bos tetap setia memakai saya, dan saya sadar kalau bos sangat menyayangi saya. Tapi kenapa saya tidak dicuci bos? Perlakuan bos yang tidak pernah mencuci saya membuat saya penasaran, karena saya merasa bos tidak menganggap saya. Bos hanya menganggap saya sepatu biasa. Bukan sepatu yang selalu menemani hari-harinya bos. Padahal, pengabdian saya besar. Dari semester 1 – 4 saya menemani bos kemanapun. Kurang berartikah hari-hari itu bos? Huk... huk.. k-khuk...” tangisnya memecah lagi, air matanya mengalir dari kedua ujung matanya. Aku terkesima menatap Mahluk di depanku. Meski aneh dan lucu, namun menyentuh. Tapi jika menyadari hal ini tidak mungkin, bahwa di dunia ini tidak ada mahluk berbentuk sepatu, aku jadi sadar mungkin ini hanya mimpiku saja.
”hmmm.. aku minta maaf. Jujur, meski kamu sudah berubah jadi sepatu mulut buaya, dan banyak yang menyuruhku untuk tidak memakaimu lagi, kamu tetap kupakai. Kamu punya tempat dalam hidupku. Yeah, aku sadar ketika Perut dan mulut buayamu bocor saat aku melewati genangan air setelah hujan deras di belakang rektorat. Hingga... he, aku masuk angin dan jatuh sakit karena kakiku terendam air. Hmmm... tapi itu tidak jadi soal, kamu lebih berarti dari itu semua.
Sebenarnya, aku heran kenapa kamu harus sesedih ini hanya karena aku tidak pernah mencucimu. Hmmm... ” aku mengeryitkan keningku. Larut dalam pemikiranku sendiri. Aku masih mendengar sesenggukannya. Mata merahnya masih lurus memandang rerumputan di sela kaki mungilnya. Sejenak aku terkesima dan berujar ”pasti bisa jadi boneka yang lucu.”
Aku masih berpikir betapa miripnya dia dengan Dobby* perasaan dan sikapnya serupa meski mahluk di depanku bermulut panjang seperti buaya, tapi bentuk kepalanya seperti anjing karena panjang, (mirip ”guvi” anjing di serial kartun Mickey Mouse) dan tubuhnya gendut berisi seperti kodok. Tapi kalau di amati lagi, dia lebih mirip boneka percobaan gagal yang di buat ahli peniru boneka amatiran. Imaginatif, tapi tidak komersil. Lucu, tapi rada Riskan. Bentuknya kurang flexibel.
”jadi kenapa harus menangis lagi?” tanyaku sambil membujunya. Tubuhnya bereaksi pelan bak Slowmotion, begitu bertahap dan kontras dengan ekspresi mukanya. Ku amati dengan seksama tiap detail ekspresi dan gerakannya. Dan kusimpulkan ”menggemaskan!”
”kapan saya di cuci bos” tanyanya pelan dan penuh harap. Tapi kulihat ekspresinya biasa. Sepertinya dia sudah menduga aku tidak akan mencucinya.
”aku tidak akan mencucimu. Aku lebih membutuhkanmu untuk berjalan dari pada kamu harus di cuci. Anggap saja kotoran yang menempel di tubuhmu adalah kenangan dari sejarah hidupku yang membekas padamu. Menjadi pengingat saat aku lemah, menjadi cambuk saat aku butuh semangat. Kamu mengantarku melewati hari-hari berat ku, aku ingin kamu menyimpannya menjadi detil masa laluku. Sobekan adalah tanda bahwa tidak ada yang abadi. Kamupun begitu mulut buayaku... ” aku sadar telah mengeluarkan isi hatiku. Bahwa selama menjalani 4 semester yang telah lalu, banyak hal yang telah kupelajari dan kuserap. Hal itu tidak mudah. Aku sendiri tidak melaluinya seperti jalan tol yang bebas hambatan.
”sudah saya duga bos pasti akan menjawab seperti itu. Orang memang sering tidak sadar tentang banyak hal. Dan salah satunya keberadaan benda seperti saya dalam kehidupan. Padahal selama bertahun-tahun saya melayani bos, saya tidak mengeluh. Saya tetap melindungi kakinya bos.
Ketika saya terus terinjak dan terkikis panasnya aspal, becek, terendam genangan air, saya tetap setia. Melindungi tanpa dipedulikan. Padahal memandang ke bawah akan membuat orang rendah hati. Saya membawa bos kesini bukan hanya untuk mendengarkan ocehan dan keluhan saya. Tapi ini lebih dari itu. Saya ingin bos sadar, bahwa benda yang paling sering bos gunakanlah yang harus sering dibersihkan dan dipedulikan. Saat dia rusak, bos sendiri yang akan terganggu. Bos harus memikirkan hal ini... ”
”Buzz”
si mulut buaya hilang dan dengan cepat aku segera di tarik oleh lubang hitam lagi. Sakit bak si steam dalam mesin presto kurasakan lagi. Rasanya seperti berhari-hari berada dalam lorong yang begitu panjang. Aku meronta dengan dengan keidakmampuanku. Kucoba berteriak keras hingga dadaku rasanya akan pecah dengan tekanan suara yang kutarik.
Dan saat tersadar, kutemukan diriku terlentang jatuh di bawah undakan tangga. Saat itu hari telah malam. Bintang bertabur memenuhi langit, awan semarak dengan warna putih pucatnya yang di timpahi cahaya bulan. ”alhamdulillah... ” gumamku dalam hati. Kutarik nafas penuh syukur, dan masuk ke dalam rumah yang masih gelap karena kakak dan adikku belum pulang. Suhu udara yang dingin membuatku tidak nyaman. Badanku nyeri, ngilu, dan panas. Aku menggigil. Dan aku segera menuju kamar setelah menyalakan lampu rumah.
NB:
•Nasib si Mulut Buaya tetap sama. Tidak pernah kucuci. Kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk bersentuhan dengan air. Bukan karena aku malas mencucinya. Kadang sesekali aku memakainya lagi jika aku ingin benar-benar down to earth. Tapi yang paling berharga adalah kesetiaannya menemaniku pada awal masa kulian hingga aku semester 4. masa itu adalah hari-hari terberat dan sangat kritis. Nasehat terbaiknya si mulut buaya ”saya ingin bos sadar, bahwa benda yang harus sering di perhatikan adalah benda yang paling sering bos gunakan”. Aku tahu. Seperti mobil yang selalu di perhatikan bahan bakarnya. Seperti otak yang selalu di upgrade, dan diri yang harus selalu di introspeksi. Dan yang terpenting, selalu ingat dengan apa yang menjadi ”what the destination of this life”.
•Cerita ini ter-inspirasi saat sepatuku yang baru kecelup di parit saat akan ke bukit untuk menengok ternak milik kakek hamid saat PKL di sumbawa. Si mulut buaya menjadi teman setia saat aku harus jalan sekitar 2 km dari rumah tiap hari. Yah, saat orang-orang berpikir untuk bermanja dengan kendaraan bermotor, aku selalu butuh share dengan lingkungan sekitarku tentang apapun yang tidak dapat diceritakan oleh mulutku dengan berjalan kaki. Aku butuh berinteraksi. Dan saat aku berjalan dan menjejak, Di situlah hidup berbicara pada ku. Mengajari cara mengahargai orang lain dan alam.
•Sepatu terbaruku, ”Merk dagangnya: airwalk, no 39, warna hitam, dasarnya putih di campur merah. Baru kucuci setelah terendam saat kepeleset di parit licin waktu ke bukit. ”itupun Aku di olokin oleh keluarga angkatku”.
•Cerita ini di ambil baik-baiknya saja. Banyak kebiasaan buruk yang dilarang untuk di ikuti. Semoga bisa menjadi bahan pikiran, olokan dan kritikan untuk penulis.
•Kritik dan saran sudilah dikirim ke email saya di aibubble@yahoo.co.id kritik dari teman-teman yang membaca adalah motor berkecepatan tinggi yang akan mengalahkan Valentino Rossi ”kalo di ajak balab” hehe.. untuk kemajuan anak yang aneh ini.
* taman indah = komplek tempat ku tinggal
* UNRAM = universitas mataram
* jalan Sriwijaya = jalan di kota mataram.
* Jalan Majapahit = jalan di kota mataram
Komentar
Posting Komentar