Suatu hari di malam takbiran



Jojo duduk di atas jendela kamarnya. Di seberang jalan terlihat para marbot yang sedang memukul bedug sambil mengumandangkan takbir dan takhmid. Wajahnya lesu saat tiba-tiba suara ibunya memanggil.

“jo, ayo turun! Bunda mau ngantar kue ke tempatnya eyang. Kamu jangan nakal ya di rumah.” Teriakan sang ibu menyadarkannya. Jojo terhenyak kemudian bangkit dari pinggir jendela tempatnya duduk. “jaga rumah ya!” ucap ibunya yang terduduk untuk menyamakan tingginya dengan jojo tangannya memegang kedua pundak jojo. “anak bunda yakin nggak mau tetap di rumah aja? Nggak takut gitu?”

“yaa-ah, mom… “ ucap jojo sambil mengangguk.

“kalau begitu baiklah! Bunda berangkat dulu. Oh ya, nanti anak bunda tidur duluan saja. Karena ayah dan kak eric akan sampai dirumah baru tengah malam nanti. Nanti bunda akan membangunkanmu.” Ibunya mencium kening jojo. Jojo pun tersenyum patuh dengan pandangan kekanakannya. “dan ayah tadi bercerita punya sesuatu buat jagoan kecilnya. Jojo pasti suka!” ujar sang ibu sambil membelai kepala jojo lembut. Ibunya pun masuk mobil setelah meninggalkan jojo yang berdiri di depan pintu.

“daag mom!” ucap jojo sambil melambaikan kedua tangannya kearah sang ibu yang juga membalasnya dengan senyuman sambil mengemudikan mobil keluar halaman. Dan mobil sang ibupun menghilang di tikungan. Setelah bunyi “kreks” dari pintu ruang tamu tertutup, jojo pun bergegas kembali ke kamarnya.

Begitu di kamar, Mata jojo segera terfokus pada layar computer. Disana sudah terpampang beberapa gambar dari CCTV. Ada gambar tepat di depan gerbang komplek yang dapat memperlihatkan aktivitas di pos satpam komplek, lalu di sudut di taman, di beberapa tikungan yang menuju mesjid, dan sepanjang jalan menuju mesjid di shoot dengan satu eangle.

“yeah, sekarang hanya butuh beberapa pemicu panas” gumamnya dalam hati. Jojopun bangkit dari duduknya. Dia puas dengan situasi yang ada. Lalu dia segera meninggalkan kamarnya menuju dapur. Rumah begitu lenggang. Iya tahu kalau sang ibu akan kembali satu jam lagi, sedang anak panti di seberang komplek akan masuk rumah tepat jam 9 malam. Kontra 30 menit setelah ibunya pulang. Mobil pawai takbiran pun tengah bersiap untuk bergabung dengan rombongan pawai yang lain. Hanya ada orang-orang dewasa dan remaja disana. Anak 10 tahun seperti dia tak akan di ajak untuk ikut takbir keliling. Padahal, jojo sangat menantikan hal itu.

Jojo menarik nafas sejenak. Beberapa hal di sesalinya kemudian. Sekarang Eric terlalu sibuk dengan pekerjaan kantornya, sehingga saat malam takbiranpun, dia tidak ada untuk menemaninya bermain dan melewati malam takbiran. Ayahnya jojo sendiri seorang asing berkebangsaan Rusia. Sahabat alm. Ayahnya eric saat mengambil master di bidang teknisi pesawat di Berlin. Kesibukannyapun sama. Jadi mechanic di sebuah Maskapai Penerbangan di Jerman. Malam ini mereka akan pulang, setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Meski, mereka pulang setelah jam malam miliknya telah berlaku.

Jojo kembali menarik nafas lalu di tahannya pelan saat lemari kebutuhan di bukanya. Seolah-olah, akan ada yang mendengar tiap tarikan nafas dan gerak-geriknya jika dengan sembarangan mengambil dan membuka lemari itu. Dengan bersemangat di tariknya sebuah kotak cokelat yang berisi cerutu khas gresik milik ayahnya. Di keluarkannya dua batang, lalu dengan perlahan di letakkannya cerutu itu di kotak pensil miliknya.

Setelah memastikan semua barang dalam lemari kebutuhan telah rapi, dia segera mengembalikan kursi meja makan ke tempatnya. Dengan susah payah, kursi dari kayu jati itu di angkatnya. Sadar akan waktu yang semakin sempit, jojopun mempercepat langkah untuk meminimkan waktu dalam satu rencana. Tapi ternyata naas, jojo tiba-tiba terpleset dan jatuh terbanting ke lantai, dia tertimpa kursi yang di angkatnya. Segera wajahnya pun berubah kecut karena meringis kesakitan. Kepala bagian belakangnya kejeduk di lantai. Sambil di usapnya kepala yang sakit, diapun sambil menggigit bibir untuk menahan sakit. Kursipun digiring sehingga menimbulkan suara berdecit di lantai. Dengan tergesa-gesa akhirnya kursi itupun dapat di kembalikan.
Dengan kotak pensil di tangan, Jojo berlari menuju garasi. Di ambilnya sepeda dengan terburu-buru sehingga tidak lama berselang dia telah membelah jalanan komplek yang lengang karena di tinggal mudik oleh para pemiliknya. Jojo sempat menoleh ke rumah Gading yang sepi. Hanya lampu luar yang menyala menerangi jalanan. Partner in crimenya itu berangkat mudik beberapa hari yang lalu tanpa ada kabar apapun untuknya. Jojo hanya mendengar kyai Husni yang mengecek rincian data pembayaran zakat. Dan nama keluarga Gading di ungkit-ungkit karena telah membayar zakat melebihi kapasitas zakat normal. Kyai Husni sendiri sering meminta Jojo untuk membantunya menghitung jumlah dana pemasukan dan pengeluaran Mesjid setelah sholat subuh berjamaah.

Sepeda semakin kencang di kayuhnya hingga tiba beberapa meter dari post satpam. Di depan komplek orang-orang telah ramai berkumpul untuk menyaksikan pawai takbiran keliling. Sangat kontras dengan suasana komplek yang lengang. Jojo memarkir sepeda di depan rumah tante mery yang punya anak gadis cantik berjilbab yang selalu di gila-gilai eric kakaknya. Jojo menarik nafas saat memperhatikan rumah itu. Cukup lengang, meski terlihat ada aktivitas di dalamnya.

“hmmm… apa tante mery junior secantik rumahnya ya?” gumam Jojo dalam hati sambil mengendap-endap menuju lampu jalan di dekat Pos satpam. Setelah sampai, jojo segera membakar cerutu milik ayahnya. Waktu terbakar dan meledaknya sudah dihitung akurat. Cerutu akan memanaskan kembang api selama Lima menit dan akan di barengi dengan meledaknya semua kembang api yang ditanamnya pada tiap sudut komplek.

Jojo beruntung karena kedua satpam sedang serius menyaksikan acara TV. Dia dengan leluasa bisa berlari ke seberang jalan untuk membakar cerutu pada tiang lampu. Setelah semua selesai, dia kembali mengendap-ngendap menuju sepeda yang di parkirnya. Sehingga tidak memakan waktu lama untuk segera sampai di rumah.
Sepeda segera di masukkannya kembali dalam garasi. Ibunyapun belum pulang. Jojo mengamati jam di dinding dan menghitung-hitung waktu yang di tunggu-tunggunya. Jojo segera berlari ke kamar. Di bukanya YM, dan di kontaknya Eric.

BUZZ
Eric_Rich : “yah jo?”
Jojo’s : look at this. You’ll like it.

Jojo mengirim live event via web camera yahoo messenger yang telah di programnya. Dan tak berapa lama, saat rombongan takbiran mesjid Al Ikhlas bergerak, ledakan demi ledakan pun membahana satu persatu secara berurut di seantero komplek. Kembang api meluncur ke atas langit tanpa henti untuk beberapa menit. Rombongan takbiran terkesima melihat kembang api yang menjulan berbagai bentuk di atas langit. Takbir pun menjadi begitu bersemangat di lontarkan oleh juru takbir mesjid.

Eric_rich : Hm? You Criminals brother !!!!
Jojo’s : I beliefe, I has time for apologize to everybody in the morning.
But eric, Happy birthday!
And forgive all my mistaken in this idul fitri :D
Eric_rich : Oh? Adik yang manis
Terima kasih. Dan semoga orang-orang tidak mencurigaiku.
Tingkahmu seperti anak kucing yang nyoba mencuri ikan.
Jojo’s : oh sorry ric, that your idea. I just do it for you. Ahaha…
Eric_rich : dasar begundal kecil !!!! tunggu kalau aku sampai.
Oh-ya? Boleh aku make a wish mischievous?
Jojo’s : what?
Eric_rich : Belajarlah spik Indonesia dengan kakakmu yang tampan ini !!!
Kita hanya beda ayah okay?! Jangan beda bahasa.
Jojo’s : tidak masalah eric.
Itu mudah.
Btw, you like it?
Eric_rich : uuuuuuugh… kau lupa lagi anak muda!
Jojo’s : hmmmm… kau suka ric?
Eric_rich : sebenarnya aku ingin melaporkanmu ke kantor polisi.
Kamu udah bikin pak hamid bekerja ekstra
untuk sampah kembang apimu adikku sayang…
Jojo’s : jadi?
Eric_rich : yeah, jadi aku bingung.
Kemana ibu sampai tidak melihat ulah gilamu ini anak kecil???
Jojo’s : oh-no! I prefer like you carrying me to the police office.
You should know, police will not border me than mommy eric…
Mommy will so angry to me.
Eric_rich : no forgiveness.
Jojo’s : you not worrying about that consequence to me?
Eric_Rich : of course!
Yeah, si tampan ini becanda jo… :D
Eh, ngomong-ngomong Ibu kemana?
Jojo’s : ke rumah eyang Ngantar kue rendah kalori.
aku harus segera tidur ric..
Bunda akan segera pulang
Eric_rich : yeah, tidur yang nyenyaklah jagoan?!
Aku sudah di kamarmu besok pagi.

Jojo menutup semua program yang ada di komputernya. Senyum beberapa saat mengembang di bibirnya. Jendelapun segera di tutup. Untuk beberapa saat dia berjalan ke dapur, di bukanya kulkas dan di ambilnya susu segar. Suasana rumah masih sepi. Aneka makanan telah tersaji di atas meja. Jojo mencolek rendang dengan tangannya. Namun, karena pedas, mukanya berubah merah. Di minumnya susu sebagai penawar untuk rendang pedas yang di cicipinya.

Beberapa tegukan cukup membuatnya puas. Jojo segera naik ke kamarnya di lantai dua. Matanya telah ngantuk. Dan seperti kebiasaanya tiap hari, jojo mengganti bajunya ke piyama tidur lalu ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci kaki. Namun, jojo kecil kaget saat sadar ada darah di bajunya. Selain kepala di bagian belakang, jidat sebelah kanannya pun biru dan benjol.

“ini bukan masalah besar” gumamnya dalam hati. Setelah semua beres, jojo pun ke kamar dan membaringkan badanya ke tempat tidur. Saat itu, hanya beberapa menit sebelum pukul 9. suara mobil ibunya terdengar menderu dari jauh. Lalu, lirih Jojo bergumam “Allahummabismika Ahya Wa bismika amut”.

***

Eric dan ayah tirinya Vladimir sampai di bandara tepat pukul 12 tengah malam. Erina, ibunda dari Eric dan jojo menunggu di terminal kedatangan dengan setia. Malam takbiran seolah memberi semangat untuk tiap langkah orang-orang yang ada di bandara. Mereka telah memasuki hari di mana hari kemenangan di raih oleh tiap umat dalam menjalani ibadah puasa selama sebulan. Riuh rendahnya menyatu dalam tiap wajah kelelahan penumpang dan para petugas bandara. Kebahagian untuk Idul Fitri, telah hadir untuk di syukuri dalam jiwa.

“mana Jojo, mom?” Tanya eric saat tahu kalau Jojo tidak ikut menjemput mereka di bandara.

“dia sudah tidur saat ibu pulang dari rumah eyang. Lagi pula, dia harus istrahat banyak. Beberapa hari ini dia sangat bersemangat membantu ibu di dapur mengurusi kue-kue dan masakan. Bantu ayahmu dulu sana! Kasian dia sendirian mengangkat koper.”
Erikpun mengambil tas yang syarat muatan yang di dorong ayahnya dengan troli bandara.

“Jojo mana sayang?” Tanya Vladimir dengan bahasa Indonesia yang masih kaku.

“Tadi dia tidur. Kasihan, dia begitu kesepian dalam beberapa hari ini. tetangga yang biasanya tidak mudik, tahun ini banyak yang mudik. Jojo kehilangan teman bermain. Dia sempat menanyakan dan kupikir itu lebih mirip protes mengapa kita tidak mudik ke Moskow atau Berlin saja untuk lebaran tahun ini. Aku tidak berani menjawabnya. Karena kau tahu, dia sangat kritis. Dia terus saja merengek-rengek sampai tertidur dilantai beberapa hari yang lalu. Itu terjadi saat dia di tinggal Gading anaknya Pak Kadir mudik ke Sidoarjo. Dia menjadi lebih manja dan sering di kamar. Karena takut kenapa-kenapa, aku mengajaknya untuk membantuku di dapur saja.

Tapi ada yang paling ku cemaskan, sayang. beberapa hari ini dia bercerita tentang seseorang yang selalu menemaninya bermain dalam mimpi. Awalnya kupikir hal itu wajar saja karena dia di tinggalkan teman-temannya mudik. Tapi tadi pagi aku gugup karena dia membawa foto Mas Yanto dan mengatakan Mas Yantolah yang selalu datang menemaninya bermain dan mengajaknya untuk pergi. Aku takut. Aku takut, Jojo ikut dengannya.”

“tenang sayang… semuanya akan baik-baik saja.“ ucap Vladimir menenangkan. Eric yang memegang kendali mobil hanya diam terpaku sambil menyetir. Jantungnya begitu kencang berpacu. Karena waktu SD kelas 6 dulu, ibunya sempat mengalami hal yang sama ketika ayahnya akan meninggal. Gugup dirasakannya mendengar apa yang di ceritakan oleh ibunya.

Suasana tegang itu mereda saat mereka sampai di rumah. Suasana rumah memang terasa cukup lengang. Eric yang sedari tadi di landa ketakutan segera berlari menuju kamar Jojo untuk memastikan keadaan adiknya memang baik-baik saja. Di nyalakannya lampu kamar Jojo, dan di lihatnya anak 10 tahun itu dengan tenang tertidur memeluk guling yang dia ingat sebagai guling yang telah di pakainya sejak kecil. Eric berbaring di sebelah jojo dan memeluknya erat. Masih dengan pemikiran dan perasaan yang berantakan, di dengarnya suara jojo memanggilnya.

“Ric, that you?” ucap jojo dengan mata yang masih terpejam.

“yah” ucap eric singkat.

“how your trip?” Tanya Jojo masih dengan mata yang tertutup. Eric pun masih memeluknya. Badannya begitu hangat.

“very fine jo… but I’m tired know” ucap Eric Lirih.

“you has a girl friend eric?”

“hm? Apa urusanmu anak kecil? Omonganmu terlalu kayak orang dewasa.” Jawab jojo sewot.

“itu wajar di tanyakan pada orang dewasa yang umurnya sudah 25 tahun sepertimu eric”
“hey! Little boy, what you mean?”

“I want have a niece, eric. Mrs. Mery junior is so compatible for you. She is pretty ones. You know, everyday, she goes to charytable institution for playing or teaching something to child. Gading always tell to me about him everyday.”

“oh-yeah”

“yeah… “ ucap Jojo lemah.

“yeah? are you fine little boy?!!!” Tanya Eric curiga.

“kepalaku berdarah Eric. It’s so hurts.” Eric kaget dan terbangun. Suara lemahnya Jojo menandakan dia benar-benar tidak berdaya lagi.

“mana?” lalu Jojo berbalik untuk menunjukkan kepala yang berlumuran darah.
“astagfirullah… kenapa tidak bilang dari tadi Jo????” ucap eric panic. “oh-no! moooooooooom!” Teriak eric. Kondisi Jojo semakin memburuk. Jojo semakin lemah. “Jojo maooooom… daaaaaaaaaaaaaaad!” teriakan eric membahana malam itu. Baru di sadarinya kalau wajah jojo memang sangat pucat melebihi biasanya. Bukan sekedar karena memiliki ras arya yang notabene berwajah pucat dan dingin. Panic, Eric mengangkat jojo yang sudah tidak berdaya ke lantai bawah. Ayah dan ibunya sudah panic melihat Eric mengangkat badan Jojo yang terkulai lemah. Darah dari kepala Jojo menetes di lantai yang semakin menambah mencekamnya suasana.

Beberapa saat kemudian, Jojo Telah di Rawat di Intensive Care Unit.

“daad, I don’t want this really happen. I LOVE MY BROTHER!!” ucap Eric terluka sambil memeluk Vladimir yang terlihat tegar menghadapi keadaan itu. Istrinya duduk terdiam di bangku rumah sakit.

“ini kehidupan Eric… kamu harus kuat.” Vladimir hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata untuk menenangkan Eric. Namun pertahanannya sendiri perlahan runtuh saat dokter keluar dengan wajah kecewa Sambil menatap matanya dengan penuh arti. Malam itupun menjadi begitu panjang saat sebuah kemenangan akan diraih. Sebuah kehidupan panjang telah di mulai oleh yang pergi. Dan yang tinggal hanya meneruskan potongan kehidupan yang tersisa, tentu dengan yang terbaik dan sebaik-baiknya. [End]

Komentar

Postingan Populer