Saat hujan tiba!
Hujan-bocor, dan kamar yang tidak pernah dipel
Mungkin orang sudah bosan mendengar ungkapan kalau "hujan adalah berkah" dan sama seperti orang lain aku tidak pernah bosan bilang hujan emang berkah buat tiap orang yang nanggepinnya bagaimana, ya???? terserah!. Tapi itu, aku sendiri rada nggak wajar nanggepinnya. Kedinginan, demam gak jelas dan ketakutan kayak anak autis ketemu pocong. Nah! Itu sangat kekanakan kalau suasanannya emang lagi genting kayak di kampus atau tempat umum. Aku bisa sangat parno. Tapi syukutnya tiap ujan aku jarang berada di luar rumah. Yeah, meski ada kurang ama lebihnya, hal ini tidak jarang merubahku dari normal menjadi manusia depresious yang menatap air hujan yang nggak sopan jatuh di kamarku yang bocor.
Semester-semester yang lalu, waktu sering dapet kuliah sore, hell itu tiba-tiba jatuh di kamarku. Waktu itu Dengan muka penat karena abis memeras otak di kampus, aku mendapati kamar yang seperti kapal pecah dengan buku dan kasur basah, hal itu lebih mirip baru ketiban tsunami. Sedangkan buku dan kamar adalah hal yang paling penting dan privasi untukku. Kamar dan buku itu adalah harta yang paling berharga. Genteng yang bocor membuat kamar basah di banyak tempat. Dan hal itu bukan pekerjaan yang menyenangkan dan nggak pernah tepat untuk dikerjakan. Mengepel lantai dan mengangin-anginkan kasur biar cepet kering, sedang malam yang dihiasi bau apek kasur dan pemandangan buruk di tembok kamar karena Yah, tempelan-tempelanku ikut basah sehingga membentuk garis-garis air yang nggak jelas di kertas-kertas yang tertempel.
Aku sering mengeluhkan tentang kebocoran yang nggak menyenankan ini. Bayangin kalo tiap hujan aku harus mengepel kamar??? Ugh! Emang nggak ada kerjaan lain yang lebih oke? Belum lagi aku harus melawan takut-mendung-nggak-jelas yang membuatku harus mengunci diri di kamar untuk sementara. Kakakku bukannya membantu malah Cuma ngingetin sambil senyam senyum "heh! Kamarmu udah di liat belum? Awas bocor nanti." Aku hanya bisa menginyakan lemah. Karena aku emang nggak pernah berdaya. Sambil menunggu titik pertama itu pulang dengan baskom guede tempat biasa mencuci pakaian.
Setelah titik pertama muncul dan jatuh di lantai, mulailah sindrom depretious yang aneh itu. Dengan lekat aku akan terus… dan terus… mandangin titik hujan yang aneh itu, yang tiap saat dan semakin lama akan mulai merembes… rembes… rembes… rembeeeeeeeees… mendekat…. Dekat… dan dekat… mendekati kasur, dan aku akan seperti pengemis yang lagi duduk di pinggir jalan yang selalu memperbaiki tempat menaruh duitnya, akupun akan memperbaiki posisi baskom yang letaknya di sesuaikan dengan arah rembesan air yang jatuh. Dan hal itu nggak pernah menjadi hal keren. Sampai hujan reda pun, aku harus melanjutkan pekerjaan mengepel lantai yang hanya kata orang yang di upah pake koin emas aja yang seneng.
Kakakku bahkan sering ngomong kayak gini "nggak pernah dipel sih… makanya kebocoran mulu, hihi… " sambil lalu meninggalkanku yang dengan nggak sabar mengepel lantai. Hal ini, menurutku lebih mirip pemaksaan nggak langsung untuk sebuah pekerjaan. Tapi hujan kan berkah, aku nggak mungkin menuntut "Hak Asasi Manusia" untuk bersantai saat hujan tanpa di sibukin oleh masalah tetek bengek hujan yang emang nggak pernah penting. Hehe.. that just my thought. Tapi mau bagaimana lagi, hujan emang turun, kamar harus segera di selamatkan!.
Komentar
Posting Komentar