Cicak menjadi Buaya
12 desember 2009
malam ini, tidak ada satupun cicak lewat di tembok. apa mereka ikutan malam mingguan yah? (pertanyaan mu bodoh sekali manusia nggak bergigi!). hmmm... tapi tidak apalah. kalo bisa menghibur.
kebetulan cicaknya panjang umur. baru di omongin langsung nongol. saya jadi ingin cerita legenda cicak yang berubah menjadi buaya. em, kurang lebih ceritanya kayak gini;
suatu hari, hiduplah seorang anak dengan kaca mata tebel dan rambut yang di kepang dua. dia tinggal di sebuah negeri antah berantah.
lalu saya tidak mood dan malas menceritakannya lagi karena si cicak menyeruduk papan styrofoam tempat note-note saya dipajang. he, cerita ini off the record (konsentrasi teralih soalnya).
oke, kembali ke cicak.
lalu tinggalah dua cicak di kamar cewek berkacamata itu. mereka sebenarnya bukan anak kembar. tapi lagak mereka seperti anak kembar identik. yang satu warnanya ijo, trus sisanya warna abu-abu. salah satu dari dua cicak itu tidak betah dengan persamaan yang mereka miliki. lalu mengemukakan apa yang jadi uneg-unegnya selama ini.
"saya bosan. rakyat cicak sering salah memanggilku dengan nama kamu" ujarnya dengan mimik wajah kesal dan dendam. "padahalkan warna kita berdua nggak mirip" cicak abu-abu manyun dengan moncong yang semakin panjang karna manyun.
"yah, kan udah dari sononya kita mirip" ujar yang ijo. "udahlah sob... diterima aja. lagian hal itu nggak penting" ujar si ijo menyabarkan.
"gimana kalau kita minta bantuan ama si kaca mata itu?" ujar si abu-abu semangat.
"emang dia mau bantu?" tanya si ijo tidak yakin
"kita coba aja okeh?!" si abu-abu optimis dan mulai mendekat pada si kaca mata tebel.
saat itu, cewek berkaca mata tebel sedang mengaduk-aduk bahan dalam bejana kecil di atas mejanya yang di panaskan dengan menggunakan lilin.
"hai! kamu sedang apa?" tanya si cicak abu-abu sok kenal.
"oh? lagi buat adonan roti nih"
"roti?"
"iya"
"buat apa?"
"tentu saja untuk dimakan anak ci-caaaaak..."
"oh?" ujar anak cicak sok ngerti.
"eh, ngomong-ngomong ada gerangan apa nih saya di sapa-sapa? biasanya kalian sukanya asik sendiri kejar-kejar nyamuk di tembok" tanya si cewek kaca mata curiga.
"saya mau minta bantuan nih... " ujar si cicak abu merendah. cicak ijo hanya diam saja mengamati cicak abu dengan cewek-kaca-mata-tebel yang ngobrol.
"hm?"
"apa saya bisa berubah dan nggak mirip si ijo lagi?"
"hah? kan kalian udah beda warna? jadi mau apa lagi?"
"bukan kayak gitu, di dunia cicak warna ijo ama abu-abu itu sama buat cicak jantan yang buta warna"
"he-eh, oh ya? beneran?"
"iyalah... ijo dilihat kayak abu-abu"
"masa sih dunia cicak juga kayak gitu?"
"he, belum tau dia?"
"ngapain saya nanya kalo tau, ci-caaaaaak?????"
"jadi, apa saya bisa di bantu nih?" tanya si cicak abu hopeless.
"em, gimana yah?" si cewek-kaca-mata-tebel pun sejenak berpikir."emang, kamu mau berubah jadi apa? kalo jadi kodok kayaknya saya kesulitan. kalian nggak mirip sih. hehehe..." si cicak abu berpikir keras. cicak ijo sendiri diam saja. menurut dia, apa yang ada padanya harus di sukuri. tidak perlu di rubah-rubah lagi.
"jadi buaya aja gimana?" ucap si cicak abu optimis.
"hm? yakin?"
"tentu saja! yang penting nggak mirip si ijo-lah"
"hm? baiklah... saya punya tiga cara murah meriah untuk membuat kamu gembul seperti buaya. cara ini cukup populer di kalangan manusia yang nggak normal. hehe... zaman sekarang kan manusia sudah banyak yang nggak normal gitu cak...
saya punya tiga cara nih, kamu ikutin satu-satu yah? kalo misalnya cara pertama nggak mempan, kita pake cara yang kedua. nah, kalo kedua nggak mempan, kita pake cara yang terakhir. okeh?" si cicak abupun ngangguk-ngangguk setuju.
uji cobapun berlanjut. cewek-kaca-mata-tebel memberikan cairan yang tadi di masaknya di atas meja dengan lilin. cairan itu menggelegak di cawan mini yang terbuat dari coin 100an yang dipanasin trus di bentuk dengan palu menjadi cawan kecil.
"ini apa?" tanya si cicak abu.
"itu fernipan atau raginya roti. gunanya buat ngembangin adonan roti. nah, biar kamu bisa se-gede buaya, saya tambahin kadar fernipannya jadi 100%. jadi, sebenernya kamu nanti bakal jadi roti buaya. ayo, kita coba?!" raut muka cicak abu nampak ragu-ragu saat si cewek-kaca-mata-tebel memberinya minuman yang merupakan campuran ragi roti.
dan ternyata si cicak gugup. saat minuman itu hampir menyentuh mulutnya, tangan yang gemetar hebat menumpahkan minuman itu. dan percobaan pertama pun BATAL!!!. si cewek-kaca-mata-tebel kecewa. namun dia belum mengalah. si cewek tersenyum, lalu bangun dari duduknya dan pergi ke dapur.
"kamu membuatnya kecewa sob!" ujar cicak ijo. dia ikut kecewa dengan kecerobohan si cicak abu.
"tadi aku gugup. tanganku bergetar hebat. aku tidak bisa ngapa-ngapain... " ujar si cicak abu menyesal. namun, karena cewek-kaca-mata-tebel muncul dari arah pintu, pembicaraan itu mereka akhiri.
"sudah... tidak usah di jadikan masalah. kita masih punya cara yang lebih ampuh untuk ini. bagaimana kalau langsung pada cara terakhir? soalnya niup kamu jadi balon bakal bikin kamu sama-sama nggak nyaman. jadi saya pikir, kita langsung ke cara ketiga aja. yeah! memasukkan kuman intravena dalam tubuh kamu." si cicak mulai memasang wajah memelasnya. dia cukup ketakutan dengan benda yang di pegang cewek-kaca-mata-tebel. kilatan jarum suntik cukup membuat nyali si cicak abu ciut.
"apa itu?" tanya si cicak abu gugup
"ini bibit cacing filariasis. cacing-cacing ini akan membuat badan kamu membengkak seperti buaya. dan saya pikir, kamu akan jadi cicak yang gagah tanpa nge-gym atau olahraga. wuh? pasti banyak betina yang suka ama kamu"
"benarkah?"
"tentu saja cak! kamu akan terkenal melebihi si ijo. ahaha... " si ijo yang ada di samping si abu pun manyun mendengar si abu akan berubah jadi cicak tampan dan rupawan. beberapa saat dia memandang si cewek-kaca-mata-tebel dengan penuh arti.
"sudah... jangan kecewa gitu dong jo... bersyukur lebih penting lho? oke?!" ucap si cewek-kaca-mata-tebel menguatkan si cicak ijo.
***
beberapa bulan kemudian, si cicak abu yang sudah menjadi buaya mendapat begitu banyak keluhan dari rakyat cicak. berbondong-bondong rakyat negeri cicak datang mendemo si cewek-kaca-mata-tebel karena mereka mengeluhkan perilaku asusila dan onar si cicak abu. mereka menuntut si cewek-kaca-mata-tebel untuk mengubah si cicak abu menjadi normal kembali. namun, si cewek-kaca-mata-tebel butuh waktu dan dana yang besar untuk membuat obat penawarnya. dan akhirnya mereka menemukan satu kesimpulan. yeah, mengucilkan si cicak abu dan membuangnya ke sungai.
rakyat cicakpun akhirnya tidak mau lagi ngobrol dengan manusia karena masih punya hutang untuk membayar dana penelitian obat penawar cacing filariasis. sehingga seumur hidup, makanan cicak hanya nyamuk dan laron. [case close]
Komentar
Posting Komentar