Flashback
6 Desember 2009
Hari ini benar-benar tidak ada yang seru untuk diceritakan. Hanya seharian ini saya sibuk jadi ibu rumah tangga gadungan. Em, mungkin mirip PRT tapi bukan PRT. Lebih mirip sukarelawan tapi bisa juga di kategorikan dalam ibu rumah tangga meski saya belum punya anak dan suami, tapi saya punya adik dan kakak serta rumah untuk di urusi. He, lebih tepat disebut magang sebelum benar-benar punya anak dan suami (kok jadi mirip promosi sih? di hapus aja deh!). Ahahaha… saya ngebahasnya serius sekali. Yah, paling tidak sebagai cewek saya harus bisa mengerjakan hal-hal itu.
Sekarang mending flashback ke masa lalu aja. Waktu tanggal 6 desember kemarin saya ngapain yah? (Tunggu sebentar! Saya buka buku harian dulu.)
Tulisannya begini;
6 desember 2008
Kurang sehari lagi menjelang 31 desember. Hari ini, aku dibangunkan oleh adzan. Hm, aku rindu ingin berhadapan dengan ALLAH lagi (waktu itu saya lagi dapet). Tapi tadi pagi aku masih berusaha menyelesaikan tugas translate-an dari pak sofyan. Alhamdulillah… hampir selesai. Tinggal besok pagi aku meluangkan waktu untuk menyelesaikannya.
Tadi pagi aku sampai pada sebuah pemikiran bahwa “aku butuh perhatian” tapi satu sisi dariku bicara “buat apa itu semua?” bergantung kepada ALLAH adalah kunci dari ketenangan itu.
Kuliah fisiologi ruminant tadi nggak jadi. Trus kuliah toksikologi juga. Hanya diberikan tugas-tugas.
Yang penting dari hari ini adalah bahwa hidup ini tidak berjalan dengan irama yang kumainkan maksudku kujalani. Setiap orang punya irama masing-masing. Dan aku harus disiplin dan menghormati tiap lantunan yang dimainkan orang lain.
Kegundahanku mungkin lahir dari nafsu hedonisku yang tidak ketulungan. Hal ini tentu saja harus di minimalisir dan kalau bisa, aku harus membunuhnya. Dan semoga ALLAH senantiasa melindungiku dalam setiap jalan yang kutempuh dalam tiap pertambahan umurku tiap detik. Semoga aku dapat bijak menanggapinya. Amin.
Dan benar saja. Sekarang saya jarang kelayapan pake sepeda. Biasanya tiap akhir pekan saya selalu hunting gang di kawasan Kota tua Ampenan yang muaranya ke pantai untuk di jelajahi. Atau saya akan menghabiskan waktu dengan membaca setiap memasuki akhir pekan. Mungkin karena sering mendapat omelan tiap saya sakit karena kecapean. Memang sih… kurang seru dan sering merasa sumpek di rumah. Tapi mungkin sudah dirasuki spirit kedewasaan. Jadi sudut prioritas lebih di utamakan. Banyak pertimbangan sebelum melangkah jadi tidak ceroboh dan sembarangan. Efeknya pun tidak fatal. Semester-semester kemarin, saya sering meninggalkan kuliah karena sakit. Sekarangan Alhamdulillah jarang terjadi. Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah, bagaimana caranya membuat diri sendiri betah di rumah. Itu yang lebih penting. Untuk itu saya punya sudut diam, tembok yang memberikan pemdangan malam dan sore dengan sunset yang indah ditambah kemegahan gunung batur di barat sana. Meski hal itu salah satu keberuntungan, saya sendiri mensyukuri hal ini. Semut dan cicak, kucing adalah asset imaginasi yang dapat digunakan untuk berhayal saat lelah menyergap. Yah, jadi benar setiap apa yang ada di sekitar kita adalah rahmat dan harus di syukuri dengan selalu sadar bahwa dunia ini sebagai wadah manusia berkreasi dengan budinya. Untuk hidup yang lebih baik tentunya, insyaALLAH.
Tanggal 31 besok saya ngapain yah? Sayangnya, tahun ini tanggal 31 jatuh pada hari kamis. Tepat pada waktu jam kuliah saya sedang penuh. Andai hari itu rabu atau jum’at, saya ingin sekali menaklukkan tanjakan sengigi. Saya ingin melakukannya karena saya tahu, tidak mudah naik turun tanjakan senggigi tanpa fisik dan performa sepeda yang oke. Alternative pengisian waktu ulang tahun palingan di kerjain orang kalau ada yang inget. Kalau saya sendiri paling tersenyum saja sepanjang hari. Hehe, sekalian di anggap gila (sekali-kali tidak apa untuk merasakan nasib orang gila. "Penting nggak sih?" Sebenernya nggak penting-penting amat). Dan lebih dalam arti yang lebih positif. Bukan gila karena hilang akal. Tapi gila karena berpikir kreatif.
Rencana lain adalah menulis cerita. Tapi saya butuh tembusan alias tolak ukur sukses saya menulis dalam sebulan ini. Paling tidak selain ide tulisan yang dapat di terima orang lain, tata cara penulisan saya pun harus dapat diterima orang lain dengan baik. Dan ini tugas saya untuk membuat orang suka dengan apa yang saya tulis. Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menceritakan niat untuk menulis cerita ini pada salah seorang teman dan dia menyambut baik usulan itu, asal positif dan tidak mengganggu pekerjaan yang lain.
Meski sebenarnya bulan ini saya harus membereskan masalah PKL. Tapi kemungkinan untuk menjalankan rencana lain tetap harus ada untuk memberikan peluang dikenalnya ide-ide yang ada dan mempersempit pengangguran di tanah air (hah! Kok bisa kesitu? Produktif kali maksudnya). Saya akan sangat senang kalau ide yang ada dapat membuat orang lain (pembaca) senang dan suka dengan apa yang saya tulis. Apalagi membuat orang lain menjadi gila seperti pembaca karya-karya raditya dika (pembaca jadi termotifasi untuk kreatif). Gila yang saya maksud adalah bagaimana orang lain bisa berpikir di luar dari kaidah kaku yang ada saat ini. bukan keluar dari kaidah agama. Hal ini Hanya berpikir saat mengahadapi masalah dan menjawabnya dengan ide yang cemerlang. Semua orang tentu dapat melakukan hal ini.
oh ya, ngomongin orang gila, saya jadi ingat orang gila yang selalu nongkrong di jembatan kembar UNRAM. saya berpikir "dia benar-benar tidak memikirkan hidupnya" (iyalah, namanya juga orang gila)
oh ya, ngomongin orang gila, saya jadi ingat orang gila yang selalu nongkrong di jembatan kembar UNRAM. saya berpikir "dia benar-benar tidak memikirkan hidupnya" (iyalah, namanya juga orang gila)
Alhamdulillah untuk hari ini… saya sudah sangat ngantuk. Semoga esok hari, desember lebih menyenangkan dari hari ini. Amin ALLAHUMMA amin…
Komentar
Posting Komentar