Panen hayalan_

The Ants invasion

Ngayal!


 

Kerumunan semut hitam berjalan memenuhi tembok. Barisan seragam itu berjalan menuju sebuah kardus yang ditumpuk di sudut kanan ruangan. Barisan yang begitu kompak menurutku. Tapi aku penasaran dengan kemampuan berjalan mereka di atas tembok. Enzim aneh mungkin bekerja dalam tubuh semut hingga dapat berjalan di tembok seperti itu. Seperti kesatria yang punya ilmu meringankan tubuh (huahahaha… kayak semut ama cicak masih keturunan pendekar dari cina saja). Sama seperti saudara nggak jauh-nggak dekatnya, cicak.


 

Kalau capek sudah overload, biasanya aku menghilangkannya dengan berbaring di kamar atau duduk di sudut diamku yang sudah kulapisi guling di bagian senderannya agar lebih nyaman untuk punggungku saat ingin relaksasi. Sebenarnya tidak hanya duduk dengan tujuan relaksasi sih, Aku sering mendapat hiburan gratis dari aksi cicak di dinding dan semut dilantai yang kadang sering kulihat berjalan beriringan di dinding menuju loteng. Kadang aku suka GR (gede rasa) begitu semut menggigitku. Sebenarnya bukan GR dalam arti sebenarnya, aku senang menganggap diriku manis saat semut menggigit (buat lucu-lucuan saja. Dengan begini "hm? Biasa deh orang manis, sukanya digigit semut" meskipun pada dasarnya manusia emang tersusun dari gula-gula sederhana yang berkolaborasi dengan asam amino. Jadi sebenarnya semua manusia itu manis, kayak gulali yang berbentuk ekstra dan unik dalam pandangan seekor semut. He, dan untungnya semut nggak pernah menganggap itu hal yang begitu serius. Yah, bisa dibayangkan kalau kita adalah gulali berbentuk ekstra besar. wuh? Naudzubillah… bisa jadi gulali berlumur semut :D). Aku sering tertawa kecil karena itu. Dan sering pula aku share keteman-teman tentang ide "cara terbaru menge-test anda manis atau tidak: gigitkan semut kekulit anda. Kalau digigit, berarti anda manis. Kalau tidak digigit, bersabarlah! Anda belum manis." sebagai bahan banyolan saja sih. kadang kalau sudah membuat kesel, aku akan memencetnya dengan sekali "kreks!" matilah semut-semut yang tidak berdosa itu. Gawatnya, jika digigit semut, bentol-bentolku bisa sampai berhari-hari.


 

Berbeda dengan cicak. Cicak sering kubayangkan berubah menjadi buaya dengan cara di rendam di cairan Fernipan atau Mauripan (bibit/ragi untuk roti) kalau aku ingin menjadikannya roti buaya (cicak berkata: emang saya roti?). heh, atau paling tidak di rendam saja dengan minyak tanah biar bengkak (cicak berkata lagi: emang saya karet?). hm? Saya jadi berpikir lebih sadis untuk membengkakkan buaya. Yah?! Dengan menggunakan cacing yang lagi tren sekarang. Cacing Filariaris. Hehe… bisa dibayangkan cicak akan membengkak seperti buaya. Dan itu hal yang logis (logis kalau ingin mencoba membengkakkan cicak dengan reaksi cacing tersebut dalam tubuh cicak. Hal itu hanya hipotesa yang belum di uji kebenarannya jika dilakukann pada cicak). Tapi saya tidak berani membayangkan kalau cicak yang selalu saya amati tiba-tiba menjadi buaya.


 

(tulisan di atas JANGAN DI TIRU!!!! Karena MENYESATKAN)


 

    Kadang kalau sedang istrahat setelah selesai membaca, saya suka memikirkan dialog seperti ini;


 

INVASI SEMUT


 

Suatu sore, seorang anak manusia ingin santai sambil membaca buku. Sinar matahari yang hangat sore itu tidak dipedulikannya. Dengan kaca mata yang sudah standby di mulainya membaca lembar demi lembar halaman buku ditangannya. Setelah beberapa lama membaca, anak itu kelihatan lelah dan tersenyum saat melihat dua ekor semut yang sedang berjalan di lantai. Diapun menyapa keduanya.


 

Manusia    : hai semut! Apa kabar?"


 

Semut        : baik, eh-oh iya! Udah dulu yah! Kami lagi sibuk.


 

    Kedua semut itu sibuk berjalan menuju kardus, tapi masih berputar-putar mengitari kaki meja. Puas mengamati kedua ekor semut, anak itupun kembali melanjutkan kegiatannya sembari tersenyum. Sekilas di lihatnya sinar keperakan matahari menghiasi langit di luaran lewat jendela kamarnya. Ditariknya nafas, kemudian kembali larut dalam buku yang dibacanya.


 

Kedua semut itu berlalu dengan berlari menyusuri lantai yang licin. mereka bejalan dengan ngedumel sesuka hatinya sambil berbisik ke temannya.


 

    "eh, itu anak siapa sih? Sok kenal banget deh?!" Tanya seekor semut brewok pada teman disebelahnya.


 

    "itu anak manusia lah! Ngomong-ngomong, lihat badannya, kurus ya? Kayak mayat hidup. Kalo mati beneran kayaknya enak buat kita santap coy!" timpal semut yang berotot.


 

    "ah kamu! Itu sih sudah pasti. Yang krempeng kayak crepes seperti itu sih banyak di kuburan. Kita bisa makan daging yang lebih gemuk lagi di kuburan sana." Ujar semut brewok percaya diri.


 

    "kamu salah! Brewok aja sih yang dirawat. Kamu nggak lihat peluang yah?"


 

    "maksud mu???"


 

    "coba pikir, sudah berapa lama kamu menggigit kulit segar? Meskipun krepeng-crepes kayak si itu?" katanya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.


 

    "em??? 3 SM coy… "


 

    "apa itu 3 SM?"


 

    "tiga hari Sebelum Mati"


 

    "lha, emang sekarang sisa umur yang kamu punya berapa?"


 

    "sehari sebelum mati coy!"


 

    "wah, cakep itu!"


 

    "Tapi tantangannya besar itu coy. Kita bisa di pencet begitu saja. Trus sisa umurku jadi lebih cepat habis."


 

    "ah, sudahlah… kalo berhasil menggigitnya kan kita bisa dapat medali dari

ratu. Trus siapa tahu kalau mati kita dikuburkan di makam pahlawan semut?"


 

    "oh ya?"


 

    "iyalah… lagian kalo dilihat nih, tuh orang mukanya rada bego-bego gimanaaa gitu… kuncinya dia suka ama kita. Jadi mungkin tidak akan melawan kalau kita gigit. Sadar nggak waktu dia sok kenal ama kita? dia mau deket-deket dan ngomong bahasa anehnya ke kita?!"


 

    "iya juga sih. He-eh"


 

    "lagian kapan lagi sih kita bisa menggigit manusia kalo nggak sekarang. Jangan Cuma jadi kisah-kisah ksatria semut zaman dulu saja. Kita kan semut modern dan gaul geto lho?! He-eh, Kita pasti bisa lah lebih dari kakek-kakek jadul kita"


 

    "wah, benar itu! Trus kapan kita gigit manusia?"


 

    "sekarang lah coy! Eh, tapi aku ada ide! Gini lho coy, kita kan punya kans untuk menggigit manusia sekitar 70-80 persen lah untuk kadar berhasilnya. Yang jelas kalau kita tidak mati duluan sebelum menggigit karena diserang duluan, kita mati setelah menggigit. Kita hanya punya sedikit peluang untuk pulang dengan nyawa masih di kandung badan"


 

    "wah, kau pesimis sekali coy!"


 

    "yah, setidaknya kita harus punya strategi agar keberhasilan kita bisa di dulang oleh yang lain, mungkin jejak ini akan dilanjutkan oleh anak cucu kita nanti?!"


 

    "wuh???? Kamu keren banget sih coy… "


 

    "ya-iyalah, harus itu! Kita harus punya rasa ke-semutan yang tinggi" (ahahahaha… bahasa yang rancu!)


 

    "emang ada rasa kesemutan coy?"


 

    "he-eh! Anggap saja"


 

    "trus apa yang mau kita lakukan nih?"


 

    "gini, aku bermaksud untuk meninggalkan pesan untuk yang lain. Soalnya, setiap kehilangan satu semut, ratu kita akan menangis semalam coy! Kasian dia jadi jablai. Nanti beliau nggak bisa bertelur kalo kita mati. Kita kan pejantan dan pekerja tangguh."


 

    "itu kata siapa?"


 

    "sudahlah, anggap saja seperti itu. Kamu ini banyak ngomong ah."


 

    "kan nanya brother... Huh, gimana sih?"


 

    "sudahlah, kita tinggalkan saja pesannya trus kita segera pergi menggigit manusia yang terus melihat kita itu"


 

    Kedua semut itu menggerakkan punggung bagian belakang mereka, meliuk-liuk hingga keluar cairan yang memenuhi lantai. Dan dengan semangat mereka berjalan menuju manusia yang sedang duduk membaca kembali. Gegap gempita kedua semut itu dibakar semangat membara, semangat sebagai seorang ksatria semut seperti yang dilakukan oleh nenek-moyang mereka beberapa hari yang lalu saat di serang oleh pemilik rumah dengan senjata kimia anti-serangga setelah itu Segera saja satu koloni habis dibantai dengan satu semprotan maut. Kedua pemuda semut itupun terbakar semangatnya untuk berjuang melawan penindasan manusia.


 

    "gimana nih? Manusianya lagi pegang benda aneh tuh? Kayaknya kalau kita tertimpa benda itu, kita akan???? Ma-ti coy." ujar semut brewokan dengan nada suara yang datar dan pesimis.


 

    "tenang, kita harus pake taktik. Kamu tahu taktik kan?"


 

    "makanan manusia yang bullet-bulet itu bukan?"


 

    "bukan bodoh! Taktik itu strategi"


 

    "oh? Strategi Buat makan yah?"


 

    "bukan. Ini buat mengalahin manusia tauk!" ucap semut berotot sewot sambil menunjuk ke arah manusia yang sedang serius membaca buku.


 

    Dan tak berapa lama, kedua semut itu telah berada di bawah kaki si manusia.


 

    "wah, gila coy! Kita udah sangat dekat. Kyaaaaaaaaa… aku belum pernah sesenang ini. Kita akan menggigit manusia sebentar lagi. Sebentar lagi coy!!!!!!!!!!" ucap si semut girang.


 

    "udah jangan ngomong aja. Ayo cepat naik! Sebelum manusia ini sadar!!!" teriak semut yang berotot ke temannya yang brewokan. "ayo cepetan!!! Jangan bengong." Si semut brewokan sadar, kemudian naik ke kaki manusia itu dengan segera.


 

    Keduanya saling bekerjaran di atas benda empuk yang seperti busa. Bercanda dan saling bercengkrama dengan asyiknya. Semut berotot lalu sadar.


 

    "eh ayo kita gigit manusianya!"


 

    "oke" sahut semut brewokan. Kemudian tanpa ba-bi-bu lagi, dengan gigitan tajamnya merekapun berhasil menggigit manusia, Nahas, secara refleks dengan rasa gatal yang datang tiba-tiba, si manusia mengangkat tangannya lalu memukul ke bagian kakinya yang gatal dengan buku.


 

    "plok!" begitu suara tepokan yang muncul dari pukulan manusia. Semut brewokan yang sadar segera ingin menghindar sambil berteriak ke temanya yang berotot.


 

    "awaaaaaaaaaaaaaas…!!!" kedua semut itu tidak dapat menghindar dari tepokan maut si manusia. Kemudian, dengan kondisi yang parah dengan cairan tubuh yang berhamburan kemana-mana, mereka berdua tergolek lemah di atas lantai dengan tangan dan kaki yang patah, leher yang bengkok serta luka di sekujur tubuh.


 

    "coy… sakit. Hiks.. hiks… hiks… " ucap Semut brewokan lirih. Tapi tidak ada sambutan dari Semut berotot di sebelahnya. Temannya kelihatan sangat parah dengan leher yang hampir putus. Semut brewokan sendiri hanya mengalami patah tulang kaki. "coy? Kamu baik-baik saja?" tanyanya. Beberapa kali panggilan yang sama di ulangnya untuk terus memastikan sahabatnya itu masih hidup atau sudah mati. "coy?" panggilnya lagi. "coy!" ulangnya. "coyyyyyyyyyyyyyyy… " teriaknya histeris.


 

    Diraihnya tangan Semut Berotot kemudian diguncang-guncangnya di sampingnya. "coy… ayo bangun! kitakan sohib. Kenapa kamu tidak mau bangun? Kamu tega bikin ratu kita jablai ya? Kita pejantan tangguh kebanggaan ratu. Jadi ayo bangun! Kita segera kesarang.


 

    Ayolah… jangan tidak adil padaku. Kamu tidak boleh sendirian dikuburan tanpa aku. Kita harus sama-sama dikuburkan di taman makam kesatria semut. Coy! Kamu membuatku cengeng. Ayolah coy… jangan tidur. Aku tidak bisa apa-apa tanpa kamu. Kita rekan bukan?" Semut brewok menangis tersedu-sedu. Di pandanginya semut berotot disebelahnya dengan kepiluan. Air matanya tak henti keluar membasahi lantai yang dingin. Beberapa saat kemudian dia sesenggukan. Pilu masih tidak dapat ditahannya.


 

    Semut berotot terlihat pucat dan tidak bergerak disebelah semut brewokan yang menatap kosong ke atas langit-langit kamar dengan penuh arti yang sesekali di selingi keluarnya air mata.


 

    "coy, bumi ini luas ya? Sangat luas buat mahluk seperti kita." Ucap semut brewokan bijak. "manusia lebih besar dari kita. Makanya mereka bisa menciptakan bangunan-bangunan tinggi, menciptakan benda yang bisa berjalan sehingga mereka bisa menaikinya dan mereka bisa kemana-mana dengan leluasa. Kita hanyalah semut kecil yang mencoba melawan manusia coy! Menurutku, tindakan kita tadi terlalu konyol.


 

    Kamu denger tidak, waktu ratu terakhir kali berpidato? Dia selalu bilang kalau kita tidak usah mencari ulah dengan manusia. Ratu juga bilang, kemampuan kita menggigit itu hanya dipakai untuk membela diri saja. Bukan untuk melawan secara terang-terangan seperti yang tadi kita lakukan. Coba aku mengingatkanmu yah?! Pasti kita masih bisa melihat koloni semut merah yang baru menetas sore nanti. Hmmmm… tapi kamu berpikir pake otot sih coy. begitulah jadinya. He, aku pake apa yah? Paken brewok ini kali yah?! Ehehehe… " semut brewok pun tertawa lepas dengan otot-otot kaki yang mulai lunglai, matanya pun sayu. Beberapa cairan bening dan putih keluar dari otot kakinya yang terkena tekanan saat ditepok buku.


 

"coy… sepertinya kita akan menyambung petualangan ini. Aku bisa melihatmu sekarang" ucap Semut brewok lemah dengan mata sayu yang kemudian perlahan mengatup dengan bibir yang dihiasi senyuman.


 

NB: Penulis lagi belajar sok "coy-coy-an" (blagu) :D


 

Komentar

Postingan Populer