ending desember
27 desember 2009 – 2 januari 2010
Keajaiban itu ada
Ini adalah keajaiban pertama yang saya rasakan sepanjang hidup. Ternyata optimisme dan do’a dengan ikhlas menyerahkan semuanya kepada Sang Pemilik Kehidupan, ALLAH SWT adalah cara untuk mendapatkan keajaiban itu. Coba bayangin? Beberapa hari terakhir ini saya dicemaskan oleh semakin dekatnya tenggat waktu berakhirnya masa PKL (praktek Kerja Lapangan), yang parahnya, sampai H-7 laporan belum saya konsul, jadi belum bisa ikut ujian PKL. Normalnya, waktu untuk menyelesaikan semua proses itu minimal sebulan. Sedangkan saya, seminggu sebelum berakhirnya semua ritual itu belum melakukan apapun. Tentu saja ancaman MENGULANG PRAKTEK KERJA LAPANGAN itu sudah membayang dan menjadi MOMOK dalam beberapa hari ini. Keyakinan itu diperparah karena banyak yang tumbang dan mengulang PKL saat menghadapi dosen yang sama yang menjadi pembimbing PKL saya sekarang ini.
Otomatis, parno menghiasi tiap gerak myelin syaraf saya. Kesadaran ini membuat saya pasrah dan mencoba berusaha untuk tidak menyerah sebelum waktunya benar-benar usai, meski kans untuk berhasilnya hanya 80:20 saja. Tentu, do’a adalah penguat saya untuk percaya diri. Banyak cara yang saya lakukan untuk tidak larut dalam pikiran yang negative. Misalnya, dengan banyak menghayal tentang ide cerita dan ide-ide baru untuk rekayasa teknologi dalam bidang yang saya geluti. Keadaan ini ditambah lagi dengan semakin dekatnya Ujian Akhir Semester (UAS). Tugas-tugas numpuk, kegiatan perkuliahan semakin padat untuk pemantapan materi ujian, praktikum pun tidak kalah menyita waktu yang membuat saya tidak memikirkan masalah penyelesaian PKL. Tapi selalu berharap dan berdo’a agar dapat menyelesaikannya dengan baik.
Kemarin, hal itupun mendapat jawabannya.
Setelah siang dari kampus untuk menyelesaikan tugas kelompok dari salah satu dosen, saya mampir ke kostnya umi karena sekitar jam 2an WITA saya ingin Browsing beberapa bahan untuk menyelesaikan tugas. Pikiran untuk silaturahmi ke rumah dosen memang saya pikirkan sejak malamnya. Rasanya benar-benar tidak tahan dengan kepastian nasib PKL yang menggantung. saya tidak ingin menunggu hingga senin untuk mendapatkan kepastian nasib. Saya tidak ingin menunggu. Saya lebih suka ada kepastian, meski pahit, saya tidak akan merasa keberatan. Karena dari kegagalan sendiri saya tidak rugi untuk kembali belajar untuk suatu hal yang berharga bagi masa depan. Kemudian, setelah sholat Ashar di kostnya umi, saya berangkat ke gunung Sari, rumah dosen saya.
Sampai disana, gugup membuat saya mematung. Saya memikirkan kemungkinan terburuk yang akan saya hadapi dan mencoba menguatkan diri untuk menghadapinya. Sambil mengendap-ngendap dari ujung rumah, saya mencoba menguping aktivitas di rumah beliau. Paling tidak, lebih dulu tahu bagaimana kondisi emosionil dari suara dosen pembimbing akan membuat saya lebih hati-hati saat memulai obrolan. Dan saat sampai, hmmm… dosen saya ada di rumah pak suhubdy. Dosen saya yang juga di Fakultas Peternakan.
Yah? Paling tidak, jantung saya tidak akan copot lah karena Saat itu saya sangat tegang. Setelah menunggu beberapa lama, beliaupun tidak banyak komentar. Beliau hanya mengatakan setelah laporan saya direvisi, saya bisa ujian PKL. Kejutan itu membuat saya gila saat di jalan. Saat itu perjalanan yang lama dan membosankan hanya memakan waktu 20 menit untuk kembali lagi ke kota mataram dari gunung sari dengan sepeda merah saya. Kemudian saya sadar akan satu hal. Yah, sepeda saya kenapa seolah-olah tidak pernah ada masalah? Padahal kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, saya kesulitan dengan sepeda yang rusak. Itu pula yang menghalangi saya untuk ke rumah dosen saya. Itulah keajaiban yang saya maksud. Pertama, saya di mudahkan untuk segera ujian. Dan kedua, hari itu sepeda saya tiba-tiba baik seolah-olah tidak pernah ada masalah. Sepanjang jalan pulang, mulut saya terus komat kamit di atas sepeda untuk mensyukuri nikmat hari itu. Harapan itu masih ada. Di saat waktu yang hampir habis. Saya hidup dengan semangat itu untuk beberapa hari.
Badan yang menuntut haknya
Hal itu terjadi di minggu siang. Setelah pulang dari nengokin adik sepupu yang baru sunatan, badan saya tiba-tiba meriang dan mencapai puncaknya pada sore hari. Dan saya tumbang hingga tulisan ini saya buat. Ini adalah hal yang menyiksa saat saya tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan banyak tugas yang harus di kelarkan sedang kondisi saya tidak memungkinkan untuk mengerjakan semua tugas-tugas itu.
Beberapa hari sebelumnya saya sempat waspada dengan tugas yang menumpuk seperti di minggu-minggu terakhir di bulan desember apalagi termasuk masa reses karena UAS akan dimulai seminggu lagi. Hal ini bukan hal yang mudah untuk dicerna begitu saja. Maksud saya, yah, okey, saya istrahat, tapi pikiran untuk waktu pengerjaan tugas-tugas yang banyak di waktu yang sedikit itu tidak pernah baik. Apalagi kalo harus SKS tiap malam? Tidak. Saya pasti akan kembali ambruk seperti pohon yang di potong kapak. Sedik-demi-sedikit, namun pasti akan roboh juga. Hanya prosesnya tidak secepat menggunakan mesin pemotong kayu.
Saya sendiri sadar mengapa sekarang saya sakit. Hmmm… yah, makan yang tidak teratur, kehujanan yang berturut-turut, dan begadang. Jadi wajar cepat atau lambat saya akan segera terserang sakit. Tubuh saya menuntut untuk istrahat. Karena itu haknya.
Siang yang menyadarkan
Cerita ini terjadi kemarin. Saat saya menghadap ke kantor dosen pembimbing untuk mengambil laporan PKL yang telah direvisi (saya jadi tidak berselera untuk cerita). Yah, kekecewaan dosen pembimbing membuat saya sadar kalau sudah banyak hal yang saya buang sepanjang tahun. Dan yang paling merugikan adalah kehilangan kredibilitas di mata beliau. Hal ini tidak pernah meyenangkan. Disepanjang jalan saya terus menyesali diri karena ini. Apalagi saya sudah di ingatkan akang untuk tidak menunda-nunda semua pekerjaan. Hal ini membuat saya sendiri semakin kecewa pada diri sendiri. Dan wajar, saya pantas mendapat penolakan dan sakit hati beserta kecewa dan kerabatnya sekarang dari semua orang. Kini, I’m less credibility.
Ditahun baru
Banyak hal yang terjadi. Umur yang sudah bertambah menyadarkan saya akan sebuah kedewasaan yang harus dimiliki. Segala gembar-gembor rencana yang akan saya lakukan untuk menyambut hari jadi harus batal oleh sakit. Bisa di bilang hadiah akhir tahun untuk sebuah kesadaran. Kesadaran kalau kesehatan sangat penting. Aktivitas nggak akan lancar kalau kesehatan terganggu. Dan semua cukup sederhana. Memahami betapa bermaknanya usia dan kesehatan dalam kamar sempit yang di sesaki barang-barang cukup mengisi semangat untuk menjalani 2010 dengan lebih baik dari 2009. biarkanlah semua kesedihan dan kekecewaan berakhir dan tertinggaldi tangga terakhir pada akhir bulan desember. Sekarang adalah move baru untuk hari yang lebih baik. Betapapun banyaknya kekecewaan di 2009. tahun 2010 harus dibayar. Dengan semangat dan kesuksesan.
Yah, meski kaca mata saya harus pecah di penghujung tahun. Parahnya, dihari ulang tahun saya sendiri. Rencana beli kamera juga gagal. Banyak yang gagal, saya sendiri tidak berdaya. Tugas menumpuk yang harus kerjakan di awal tahun ini. Semua harus segera di kerjakan. Nggak bisa bermain-main lagi. Semua harus dikerjar sekarang.
Ulang tahun kali ini memang tidak pernah saya sangka-sangka. Desember terlewat begitu saja dengan tantangan dan tekanan yang menumpuk. Semua berkulminasi jadi satu di akhir bulan. Membentuk ketegangan tersendiri. Paling tidak saya tidak melupakan hari-hari terberat dengan frustasi yang mewarnai hari. Tentu saja semua itu adalah penanda bahwa saya hidup dan sedang di coba. Semoga setahun kedepan saya bisa menjadi lebih baik. Amin ya robbal alamin…
Komentar
Posting Komentar