catatan ketegangan beberapa bulan yg lalu


Sekarang, semua kehidupan memang masih berjalan seperti biasa. Bagaimana cara melewatinya tentu beda bagi tiap orang. Kegelisahan, kesedihan, bahagia, kecewa, marah, menjadi warna sendiri dalam hidup. Namun, sering dari kita sadar kadang kadar kesusahan dan kesenangan yang di dapatkan tiap orang berbeda tergantung dari besar cobaan yang dijalaninya. Tolak ukur kesuksesanpun letaknya pada bagaimana seseorang bisa menghadapi masalahnya, kalo dijalani dengan ketidaksabaran kadar gembira yang di dapat tidak akan sebesar saat kita bisa melewatinya dengan penuh sabar dan ikhlas.
            Saya merasakannya. Bagaimana sebuah masalah benar-benar datang dan memenuhi pikiran. Rasanya seperti rantai yang tidak ada putus-putusnya untuk dipikirkan. Apalagi saya termasuk orang yang tidak akan tenang jika belum menemukan cara yang paling baik untuk menghadapi salah satu masalah. Terutama jika menghadapi beberapa masalah dalam satu waktu. Satu persatu hal tersebut dipikirkan sampai saya menemukan benang merah yang bisa saya ambil untuk menyelesaikannya. Hmmm… tapi kebanyakan saya terlalu sering berpikir. Saat menghadapi masalah itu sendiri di depan mata, misalnya kayak harus menghadap dosen, pikiran dari rumah pasti sudah macam-macam? Dari kemungkinan A sampai Z. eh, malah setelah menghadap dosen, kemungkinan itu jauh dari yang terjadi. Dosen tidak terlalu banyak menuntut ini-itu. Hasilnya, tentu saya menjadi lebih bersyukur karena penyelesaiannya lebih mudah dari apa yang saya pikirkan sebelumnya. Buruknya, hanya saya jadi kelebihan parno yang menyebabkan saya harus minta pertimbangan kesana-kemari terutama pertimbangan dari teman-teman untuk menyakinkan diri kalau jalan keluar yang saya ambil sudah benar atau tidak.
            Dan sekarang “saya dalam masalah” itu yang ada dalam pikiran saya. Saya sendiri sadar seharusnya saya harus men-sugesti diri saya kalau “semua akan baik-baik saja, oke?! Cuma tinggal di omongin aja?!”. Tapi saya kalah dengan pikiran itu. Tekanan yang sedang saya hadapi lebih berat “hm? Mungkin ini Cuma perasaan saya lagi?” karena menyangkut penelitian untuk skripsi saya. Sebernarnya kalau sudah menyangkut pada keputusan yang akan terjadi nanti, saya suka memikirkan kemungkinan-kemungkinannya alias saya suka menebak apa yang akan dikatakan orang kepada saya nanti. Jujur, ini hal yang paling buruk dari diri saya! Kenapa? “saya jadi sering diserang paranoid tinggi!” meski akhirnya, saya akan tenang setelah memikirkan semua itu. Yah, rasa bahwa saya telah “mengambil pusing” terhadap masalah yang sedang saya hadapi lebih membuat saya nyaman untuk tidur. He, lebih karena saya tahu apa yang akan saya lakukan besok.
            Apa semua orang berpikir seperti ini? Hmmmm… mungkin. Kuharap tidak ada orang lain lah. Jujur, seperti ini nggak enak. Apalagi kalo nggak punya sahabat yang bisa dijadikan tempat Share. Untung kalau dapat yang bisa memberikan shortcut solution untuk kita, Kalo yang Cuma bisa ketawa garing dan ngucapin sabar aja, kurasa? Lebih baik hindari aja dan cari tempat atau cara lain untuk keluar dari yang namanya PIKIRAN. Soalnya, selain percuma (nggak dapat hasil), teman yang seperti itu Cuma akan menciptakan dunia yang begitu garing sehingga tiba-tiba keluar dari mulut mereka kata Innalillahi wainnaillahi rojiuuunn… (ucapan berbelasungkawa) karena kita lagi tertimpa kemalangan. Tips saya: kalau jawabannya berupa “senyum (dalam bentuk icon), ketawa, penolakan langsung, solusi yang konyol, menyuruh tidur, atau nyemplungin kepala ke air” sebaiknya kita segera cari sarana lain buat ngelampiasin apa yang sedang kita pikirkan. Saran terbaik saya adalah MENULIS. Menulis apapun. Yeah, itu kalau rumah kita/anda (he, sok resmi) jauh dari pantai atau bukit (untuk bunuh diri???) untuk TERIAK sih nggak apa-apa. Berteriak cukup nyaman untuk memasukkan udara ke rongga dada yang hasilnya akan membuat kita lebih rileks.  Selain kalau kita/anda (resmi lagi :D) punya teman yang selalu siap sedia memberikan solusi dan ikut mikir solusi apa yang baik untuk masalah yang sedang kita hadapi. Wuh??? Jujur, teman yang seperti itu yang paling nggak bisa kita/anda lepas. Dan dibawah ini ada beberapa hal yang sedang saya pikirkan.

  1. Penelitian
Semua benar-benar menjadi masalah saat saya menghadap ke prof. Suhubdy untuk memohon ke beliau agar bersedia menjadi Pembimbing utama. Sebelum itu, semangatku besar karena kupikir beliau akan setuju. Tapi tidak setelah aku menghadap beliau yang ternyata sudah tahu apa yang sudah kulakukan. Mengenai PKL yang ternyata sudah menjadi penelitian, masalah metode penelitian yang mensyaratkanku 15 ekor sapi hissar jantan dengan umur dan bobot badan yang sama. Dipikiranku, permintaan beliau itu lebih sulit dari permintaannya roro anteng ke buto ijo untuk membuat laut di atas gunung sampai menjadi gunung bromo dan candi prambanan. Atau kisah sangkuriang yang disuruh dayang sumbi untuk membuat danau. Butuh waktu bertahun-tahun! Gak bisa semalam kayak legenda itu (hm? Jadi sebenarnya lebih canggih mana? zaman dulu atau zaman sekarang?. Buat candi, sungai dan gunung bisa semalam sedang bikin sapi hissar seekor bisa nyampe berbulan-bulan. Belum nyari betina ama jantannya, kawin, hamil, brojol, trus gedein sapinya sampai umur tertentu. Iya kalau yang lahir bisa jantan semua. Kemungkinan untuk jantan atau betina dalam sekali lahir kemungkinannya separuh-separuh. Yang bener aja???)

Saya sendiri sadar itu berupa penolakan langsung dari beliau untuk membimbing dengan judul dan subjek yang sama. Hmmm… saya disuruh untuk kembali dengan judul baru kalau masih ingin dibimbing beliau. Dan masalah dengan beliau berhenti sampai disitu.

Keluar dari ruangan prof. suhubdy saya membayangkan reaksi pak dilaga tentang unpossible thing yang diinginkan prof. suhubdy. Yang kupikirkan itu 1) pak dilaga akan sangat kesel dengan permintaan yang sangat susah dipenuhi. 2) beliau (pak dilaga) akan mengatakan kepadaku “nggak apa-apa nak. Kita cari pembimbing lain”. 3) pak dilaga akan melepasku untuk mencari ide baru untuk penelitian dengan prof. suhubdy saja karena menyangkut data dari rancangan percobaan yang tidak akurat.

Setelah itu aku menuju lab biotech untuk cerita ke umi. Setelah cerita, aku kena syndrome bengong seharian Alias mikir yang berkepanjangan dan tersamar menjadi anak autis yang ngeluarin liur tidak sengaja dimana-mana. Trus orang-orang berpikir aku terserang geger otak permanent karena tidak ngomong-ngomong seharian.

Haha… untungnya nggak frustasi berkepanjangan. Aku sendiri udah dapat solusi setelah mikirin semua itu sematang mungkin. Penelitian itu akan kulanjutkan untuk laporan PKL saya yang datanya kurang, sedang penelitian akan kulanjutkan dengan judul dan ide yang baru. Semoga ini berhasil. Karena sampai sekarang saya belum mengemukakan keinginan ini ke pak dilaga. Saya berharap beliau setuju dengan penyelesaian ini. Aku sendiri masih was-was. Dan aku hanya tinggal menunggu hasil pembicaraanku dengan dosen pembimbing saja.
  
  1. Membaca
Banyak buku yang ingin kubaca. Saking inginnya, aku tidak kunjung membacanya. Hehe… soalnya yang kubaca adalah textbook-textbook ilmu nutrisi untuk menguatkan teori yang ada dikepala yang notabene akan membuatku sangat ngantuk. Masalahku, aku sedang ingin membaca novel-novel yang sedang kuburu di toko (he, semua orang juga mau kalo yang itu mah) the host punya Stephanie mayer, tetralogi twilight seri 3 & 4 juga punya Stephanie mayer, the tunnel 1 & 2, petualangan ke dasar bumi 1 & 2, buku 20 seri tasawuf milik Agus Mustofa, dan beberapa judul yang kulupa.

Dan setelah menulis ini, aku akan menyelesaikan membaca jurnal dan skripsi. Tentu akan banyak manfaatnya. Sure!
  
  1. Merokok dan Perokok
Hm? Kurasa masalah merokok dan perokok ini yang paling menyita pikiranku beberapa hari ini selain penelitian.

Bagaimana tidak, tiap hari adikku dengan bangga memotret dirinya yang sedang merokok. Jadi apa manfaat ibadahnya selama ini? Saya pikir dia akan sadar setelah dia saya pergoki sedang merokok di luar rumah saat hujan deras. Yah, saya sadar dia udah besar. Tapi merokok itu bukan pembuktian dan hakim untuk dewasa, jantan, keren dan alasan tidak masuk akal lainnya.

Perokok tau nggak yah kalau masa muda adalah masa untuk menabung kesehatan untuk masa tua? Kalau masa muda sudah terbebas dari asap rokok, yang jelas masa tua akan terjamin dengan kesehatan yang lebih baik. Bisa diamati malah! Sebagian perokok produktivitasnya menurun drastis saat mereka menginjak masa tua. Coba deh banyangin, misalnya: si fulan nih merokok pada usia 12 tahun atau waktu kelas 6 SD trus nikah pada umur 30 tahun, fakta menyatakan kalau mengisap sebatang rokok itu mengurangi kalau nggak salah 10 detik waktu hidup karena efek dari zat yang terkandung di dalamnya. Nah, kalau si fulan baru berhenti saat umurnya 40 tahun, maka waktu hidup si fulan 40-12 = 28 tahun hanya untuk ngerokok. Kalo si fulan dalam sehari ngabisin rokok ukuran besar yang jumlahnya 16 batang, jadinya 16 batang x 10 detik = 160 detik alias 2 jam 40 detik hidupnya berkurang tiap hari. Kalo dikali 28 tahun lama si fulan merokok dengan pengurangan umurnya tiap hari alias 160 detik jadinya 28 x 160 = 4480 detik atau ± 74 jam waktu hidupnya berkurang hanya karena merokok!
            BAYANGKAN! Waktu 74 jam itu sebenarnya bisa digunakan untuk beramal sholeh dan melakukan sesuatu yang terbaik buat keluarga atau orang lain.
            Hasil riset lain mengatakan bahwa perokok kemungkinan untuk masuk UGD/IGD lebih rendah dari yang non-perokok. Hal ini karena perokok sebagian besar mendapat serangan jantung akut yang tidak memungkinkan mereka sampai di UGD (ini bukan sumpahin atau menghakimi, ini berdasarkan hasil survey!!). Jadi, mungkin tidak ada say goodbye dari seorang perokok untuk keluarganya kalau sedang sakaratul maut karena jantungnya sangat reaktif dan cepat menanggapi rangsangan. Kebanyakan banyak yang berakhir di tempat kejadian, dalam ambulans, pintu masuk rumah sakit, atau mungkin saat dibopong masuk ke dalam mobil atau rumah sakit. Naudzubillah… kemudaratan untuk diri sendiri sebenarnya tidak harus terus dipelihara. Umur yang tersisa mengapa tidak digunakan sebaik mungkin?!.
            Fakta betapa buruknya merokok itu sangat banyak dikemukakan oleh para ahli medis dan ilmuan. Dari zat penyusunnya sampai bahan-bahan yang digunakanpun berbahaya! Sebagian Negara di luar negeri malah menyatakan rokok setara dengan obat terlarang. JADI MENGAPA TERUS MEMBIASAKAN YANG TIDAK BENAR WAHAI PEROKOK?????
            Hmmm… dan menyadarkan seorang perokok sangat berat. saya sendiri nyatain “I never understand smokers” dengan segala alasan yang mereka kemukakan untuk membela dirinya sendiri. Saya heran, mereka bisa menjadi pengacara yang sangat baik hanya untuk membela diri mereka sendiri dari saran dan larangan orang lain untuk berhenti, yang anehnya orang lain cemas dengan kesehatan mereka, tapi mereka tidak peduli. Hm? Bisa dibilang, kadang merokok bisa mencuci logika untuk menghindar dari tuduhan terhadap objek tertentu. Jadi logika perokok itu akan secara otomatis membela diri mereka saat mendengar larangan atau perdebatan tentang betapa anehnya mereka.
            Satu hal yang saya pikirkan dari seorang perokok. Yaitu saat mereka sudah berkeluarga. Saat anak-anak mereka sekolah dan membutuhkan uang banyak untuk sekolah yang notabene akan menuntut orangtua mereka (perokok) untuk mencari uang. ANAK mereka tentu menjadi korban. Seharusnya, mereka bisa lebih sehat dan kuat untuk memperjuangkan anak-anaknya dalam bersekolah (kecuali perokok yang terus merokok karena mempunyai uang banyak). Realita perokok dan merokok adalah yang tragis dari sebuah KESADARAN YANG DISELEWENGKAN!.
           
  1. Membuang sampah
Hal ini cukup menguras pikiran. Tapi tidak menurunkan kemauan saya untuk dapat melakukan yang terbaik dalam mengurus sampah. Tapi saya masih sangat pengecut dalam hal ini. Di rumah, saya membuang sampah pada tempatnya, tapi sampah itu ujung-ujungnya dibuang keselokan. Hmm… I’m so looser with this. Payahnya saya Cuma terus berencana tanpa tindakan yang cepat. Sebenarnya masalahnya selesai kalau saja saya berlangganan truk sampah. Itu lebih baik. Budget yang nggak ada tentu harus saya akali.
            Saya terus dilematis dengan sampah. Sampai sekarang. Buat apa straight pada masalah lingkungan kalau saya sendiri saja belum bisa mengkondisikan lingkungan saya sendiri untuk sadar kalau buang sampah pada tempatnya sangat penting! Dan AKSI!

  1. Menulis
Saya sangat merindukan kegiatan ini. Suatu kondisi saat apa yang ada dalam kepala saya dikeluarkan menjadi sebuah ide yang bisa dibaca dan dishare ke orang lain “How proud of me when I do it” Dan kadang, bengong sambil memikirkan apapun tentang ide yang sedang berkembang dalam pikiran adalah sebuah kenikmatan yang hanya ada di bumi ini, saat saya hidup, saat saya berpikir, dan saya tulis semua itu.

Yang ingin saya tulis:
SEBUAH NOVEL TENTANG TROBLE MAKER yang settingnya di Bandung yang mengisahkan anak gadis yang how it so sadness girl with all the problem. Tapi intinya dia nggak nyerah dengan apa yang terjadi pada dirinya.

CERPEN TENTANG KISAH HIDUP SEORANG PEROKOK YANG TRAGIS TAPI LUCU. Hmm… tapi masalah perokok dan merokok bukan masalah lucu. Hal ini masalah serius yang menyangkut menyadarkan seseorang dari keterbelakangan kesadaran dengan satu kata “rokok” mereka bukan phobia, Cuma memiliki rasa persaudaraan yang menyebabkan mereka membela dan memperjuangkan hak-hak mereka untuk bebas serta tidak dilarang merokok.

INVASI SEMUT JILID 2 yang masih mengambang. Sebenarnya bukan ngambang, saya saja yang malas menulis. Cerita lanjutannya itu gini: perjuangan dari semut berotot dan berewok itu dilanjutkan oleh dua semut lain yang membawa masalah itu ke ratu semut. Yang hasilnya, mereka berjuang habis-habisan untuk mempertahankan rumah mereka.

CERITA SCIFI TENTANG DUKUN VS PETERNAK yang belum saya selesaikan. Lanjutannya itu menjadi perlawanan dukun dan perternak terhadap para dedemit yang ngamuk.

CERPEN TENTANG DI DATANGI SI MULUT BUAYA LAGI. Kalau jadi sih, ceritanya tentang konsentrasi saya yang mau penelitian dan ingin sekolah lagi.
           
  1. Malas Kuliah
Sebenarnya, hal ini muncul karena saya ingin konsentrasi dengan materi penelitian yang sedang saya hadapi. tapi kayaknya hal ini akan mulai berubah mulai hari ini. Saya akan kuliah lagi. Saya sadar harus bertanggung jawab dengan mata kuliah yang saya programkan. Hitung-hitung belajar lagi meski nilainya sudah cukup.

            Semua masalah tentu akan ada penyelesaianya. Segala rencanapun tentu akan menemukan muara untuk ditindaklanjuti. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Sobat, tulisan ini sebenarnya saya tujukan untuk kita renungkan bersama. Kalau masalah itu ada dimana-mana. Yang membedakan masalah kita hanya kadar dan pengalaman menghadapinya saja. Kalau ada yang tidak mengenakkan dari tulisan saya, saya mohon maaf.  Karena dalam hal ini, saya meniatkannya untuk kebaikan. Semoga tulisan ini berguna.


           

Komentar

Postingan Populer