Aku, anjing dan ketakutanku
Haruskah terus seperti ini?
Ketakutan dan terus merasa seperti pengecut?
Saat diri menjadi begitu telanjang di depanmu
Kenapa tidak kau sedot saja ketakutan ini?
Kalau memang benar kau bisa melihat semua kecemasan dan ketakutanku
Yah, kau!
Anjing yang menggonggong tiap malam
Melihat tiap ketakutan menguap di atap rumah
terus saja menggonggong
Terus gonggongi ketakutanku
Terus gonggongi segala kepengecutanku
Dan aku akan melawannya
Dengan nyata
Jiwa yang penuh kecemasan
yang terus saja pongah melawan hidup
merasa istimewa dengan keakuan diri
padahal apalah semua itu
hanya ombak yg menghantam pantai
berbekas lalu mongering di atas kuasa pasir
lalu kau tawarilah ketakutan ini
di bawah kerendahan yang membuatmu hebat
kerendahan yang membuatku merasa dipalu
betapa hewan rendah sepertimu bisa mengingatkatkanku tentang semua ketakutan
kegelisahan dan kecemasan
aku, manusia
manusia yang terus merasa tidak puas dengan rahmat yang tiada putus tiap harinya
masih saja merasa meradang dan mengeluh tentang kehidupan
sedang kau
terus menangis melihat kegelisahan kami tiap malam
kau sedih betapa semakin jauhnya manusia dari tuhan
meronta-ronta dengan ketakutan akan kerawanan sandang-pangan
sedang kau
hanya hidup dari sampah yang di buang
itupun kalau manusia tega membuang tulang atau sampah makanan
aku terpuruk di bawah kerendahanmu
Ketakutan dan terus merasa seperti pengecut?
Saat diri menjadi begitu telanjang di depanmu
Kenapa tidak kau sedot saja ketakutan ini?
Kalau memang benar kau bisa melihat semua kecemasan dan ketakutanku
Yah, kau!
Anjing yang menggonggong tiap malam
Melihat tiap ketakutan menguap di atap rumah
terus saja menggonggong
Terus gonggongi ketakutanku
Terus gonggongi segala kepengecutanku
Dan aku akan melawannya
Dengan nyata
Jiwa yang penuh kecemasan
yang terus saja pongah melawan hidup
merasa istimewa dengan keakuan diri
padahal apalah semua itu
hanya ombak yg menghantam pantai
berbekas lalu mongering di atas kuasa pasir
lalu kau tawarilah ketakutan ini
di bawah kerendahan yang membuatmu hebat
kerendahan yang membuatku merasa dipalu
betapa hewan rendah sepertimu bisa mengingatkatkanku tentang semua ketakutan
kegelisahan dan kecemasan
aku, manusia
manusia yang terus merasa tidak puas dengan rahmat yang tiada putus tiap harinya
masih saja merasa meradang dan mengeluh tentang kehidupan
sedang kau
terus menangis melihat kegelisahan kami tiap malam
kau sedih betapa semakin jauhnya manusia dari tuhan
meronta-ronta dengan ketakutan akan kerawanan sandang-pangan
sedang kau
hanya hidup dari sampah yang di buang
itupun kalau manusia tega membuang tulang atau sampah makanan
aku terpuruk di bawah kerendahanmu

♥♥♥
BalasHapus