Kuputuskan untuk berjalan bersama anjing

tiap kali takut dan gugup,
dia akan menyalak gagah
dia sadar akan kelemahanku
dan tidak mungkin terus menutupinya

maka kuputuskan untuk sejenak berjalan bersamanya

dia membawaku berjalan menyusuri jalanan tengah malam
hanya berjalan dalam diam
kakinya memacu jika hampir dekat dengan tong sampah
aku terhuyung dibelakang
mencoba menyamai kecepatan larinya

diapun mulai mengorek-ngorek
aku hanya diam
memperhatikan dengan tidak minat
sejenak berpikir tentang kebodohan perjalanan ini

"tentu saja derajat manusia lebih tinggi dari pada seekor anjing buluk" ujarku dalam hati
pandanganku masih acuh melihat si anjing yang mengorek tong sampah
nafasnya mengejar-ngejar saat tulang yang digigitnya jatuh ke tanah
dia begitu sigap seolah-olah akan ada anjing lain yang akan merebut tulang itu
dan saya masih tidak berminat untuk melihatnya

setelah merasa cukup
dia mengajak saya ke sebuah tanah lapang
di situ, kami bisa melihat rumah-rumah yang disinari lampu malam itu
sepi yang kulihat
sedang angin bertiup kecil yang mendinginkan suasana malam

si anjing pun duduk ditengah-tengah lapangan.
saya mengikuti dengan berdiri di sampingnya
mencoba menikmati suasana malam itu
bintang yang perpendar seperti jendela rumah dari jauh
seperti melambai kepada kami untuk kembali
entah kemana..

hening

saya mulai canggung
kesadaran waktu membuat saya bosan
sedangkan yang saya lakukan hanya berdiri linglung mengahadap rumah-rumah yang ditembok angkuh oleh pemiliknya
mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi
dan kembali merasa betapa bodohnya saya sampai mau melakukan perjalanan konyol ini

"anjing hanya binatang bukan?
mengorek-ngorek sampah sisa manusia
melolong dengan suara pilu tiap malam
atau menggonggong tidak jelas untuk menunjukkan kuasa
bukankah itu tidak lebih baik dari sampah itu sendiri?

saya pun mulai resah
tapi anjing itu masih diam dan tenang
dalam pikiran saya "ya, namanya juga binatang, mereka tetaplah binatang"
saya pun membulatkan hati sembari menarik nafas panjang
lalu langkah saya pun dimulai sambil menjauh dari anjing yang duduk dengan khusuk di tengah lapangan

tapi belum seberapa jauh
anjing itu melolong panjang
lolongan yang terdengar pilu
langkah saya terhenti
mencoba menyadari apa yang sedang terjadi

pandangan saya menggelap
perlahan saya bersimpuh dengan haru yang tidak pernah saya pikirkan
saya membuka mata
dan yang saya lihat?

...tragedi manusia.

kelaparan
ketakutan
kesedihan
kebagiaan semu
kelicikan
kesendirian
anarkis sosial
anarkis pikiran
cuci otak
sex
wanita
fashion needs
uang

dan tiba-tiba saya ingin muntah
malu
betapa telanjangannya angan manusia yang menguap di atas atap
betapa seekor anjing saja menangis karenanya

manusia yang hidup hanya sekedar untuk urusan pribadinya
apatis
menuntut banyak pada manusia lain
pada alam semesta
padahal mereka sendiri adalah sampah perusak

adakah seekor anjing yang mau memakannya?
saya berpikir ulang apakah anjing gagap dan oportunis mau memakannya
sampah yang terlalu busuk hanya cocok di urai oleh bakteri
dan berakhir di tanah sebagai bagian yang hancur karena sungguh tidak berguna
tragedi yang menyebabkan keseimbangan terguncang

saya hanya sanggup menangis pilu.
atas segala keegoisan dan nafsu hidup saya sendiri...
dan betapa anjing bisa lebih mulia dibanding manusia culas
ini seperti kematian hati nurani
musibah yang mendorong kiamat segera tergelar

Innalillahi wainnaillahi rojiuuun...




Komentar

Postingan Populer