Mengapa?
Bukan
ini bukan soal mengeluarkan sampah agar tidak membusuk dalam pikiran
Ini pun
bukan masalah mengeluh atau meratapi nasib
Ini tentang
“mengapa?”
Terlalu
banyak kata “mengapa” dilontarkan
bahkan oleh diri saya sendiri
bahkan oleh diri saya sendiri
Terhadap
diri saya sendiri
Saya sadar…
Ini bukan
masalah badai besar atau serangan air dan angin yang membuat tubuh saya kaku
Ini
menyangkut perjuangan melawan diri sendiri
Membawanya
kembali agar seimbang
Menyadarkannya
untuk suatu masa perjumpaan
Yang tidak
mungkin dilakukan dengan bekal yang minim
Menyadari
telah banyak kebodohan yang saya lakukan
Mengapa
tetap dalam satu kondisi?
Mengapa
tetap nyaman pada tangga yang sama?
Mengapa
tidak kau coba menaiki lagi tanggamu dengan lebih tinggi?
Mengapa
tenaga besarmu kau timbun dalam ruang sepi?
Mengapa?
Kau tidak
hidup di dunia segi empat!
Dimana kau
bisa selalu sembunyi pada tiap sisinya
Mencoba
menghindari kenyataan dan fakta yang jelasnya harus kau temui saat kau
berjalan.
Berhentilah
menjadi bodoh…
Kau butuh
pintar untuk melewati bumi yang bulat.
Kau butuh
mengisi banyak pundi-pundi amal jika ingin bertemu makhluk-makhluk yang kau
cintai…
Yang kau
rindukan…
Yang selalu
menemanimu saat kau merasa kau sendiri
Dia begitu
ada saat kau tidak menyadarinya
Begitu besar
saat kau tidak membesarkannya
Sekarang,
Berhentilah
menangis
Berhentilah
meratap
Lakukanlah
apa yang seharusnya kau lakukan
Dia akan
selalu ada untukmu…
Lalu,
Jawablah
semua “mengapa?” yang muncul dengan kecintaanmu terhadap hidup
Bahwa hidup
yang selalu menempa kepribadianmu menjadi lebih kuat
Meski kau
terseok-seok karenanya.
21/12/2011
Komentar
Posting Komentar