Pulang

seperti mata yang berkedip, saat membulatkan hati untuk memulai sebuah perjalanan, kau tatap lekat rumah yang kau tinggalkan. dan efek itu terjadi saat kau kembali pulang, seperti saat berkedip dan pertama kau meninggalkannya, kesan selalu membuatmu kebanjiran dejavu
jarak. menjadi perintang nyata di hatimu untuk kembali. dan saat memutuskan untuk pulang, semua kembali menyusun kenangan itu. kenangan saat kaki mulai berani mengembara. menemukan tempat harapan menjadi nyata
sangat dekat... saat geliat kehidupan orang lainpun menjadi pemuas dahaga untuk introspeksi
saat kenangan tentang pengembaraanmu kembali muncul dan menjadi semakin jelas. membuat batin yg ringkih mulai menggeliat menemukan muara kembali
dan kerinduan itu tetap akan datang menyapa...

menatapmu seakan berbicara bak anak kecil yang mengajak kamu bicara dengan segala kepolosannya
membuatmu semakin resah..
lelah...
merindukannya...
...dan kamu pun kembali. pulang.

Komentar

  1. aku selalu menangis setiap pulang dari pengembaraan itu.
    setiap perjalanan akan menyisakan kerinduan yg menyeruak pahit tatkala kepulangan adalah menetralkan diri dari semacam pelarian jiwa.
    entahlah...

    Mungkin 'pulang' versi orang rumahan seperti saya berbeda esensinya dgn 'pulang' versi anak kos2an
    :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kadar antara keduanya aja yg beda ka.. kalo anak kosan lebih ke pelarian jiwa yg porsinya lebih gde dibandingin menangis pada tiap kepulangan dari pengembaraan. dan anak rumahan kebalikannya :D

      Hapus
  2. dan saya ingin pulang ke malang biar bisa kembali ke jember... >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi.. tapi kamu harus menyelesaikan apa yg harus diselesaikan yun.. diperjalanan itu kamu akan menemukan keakraban baru yang bikin kamu betah :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer