 |
| Bapak petani Kangkung |
 |
| Pinggiran sungai jangkok yang sudah sepi dari hamparan ladang kangkung |
 |
| Tangan bapak petani kangkung saat bercerita tentang banjir yang membawa hamparan kangkung di sungai jangkok kemaren sore (7/11/2012) |
 |
| Kangkung yang tersangkut di bawah tiang jembatan |
 |
| Petani kangkung memandang lepas ke arah sungai tempat ladang kangkunganya pernah ditanam sebelum di bawa arus banjir |
 |
| Ibu yang baru pulang dari pasar ampenan. menurut bapak petani kangkung, pasar ampenan sudah berdiri sejak lama. |
 |
| Deretan kayu yang dijual di pinggir jalan di sisi sungai jangkok |
 |
| dari bapak petani kangkung, saya sendiri baru mengetahui ternyata bangunan ini adalah pabrik kecap Wie Sin yang cukup terkenal :D |
 |
| Pohon dan tanah sisa banjir yang mulai mengering |
 |
| Papuq (bahasa sasak untuk nenek) yang baru pulang dari pasar |
 |
| Ibu-ibu yang memanen sisa kangkung yang tidak terbawa banjir |
 |
| Area dekat parkiran menuju pasar. banyak yang menggunakannya untuk ngobrol dan bercengkrama dipinggir sungai |
 |
| awalnya, saya pikir kayu dan besi ini hanya pancangan biasa untuk mengikat tali pancang untuk kaitan kangkung. ternyata, dari bapak petani kangkung, dia menceritakan kalau kayu dan besi ini sisa dari jembatan gantung. dan sudah ada di situ sejak lama. |
 |
| Jalan masuk menuju pasar |
 |
| Parkiran di samping Mushola |
 |
| Jemuran cabai milik pedang |
 |
| setelah saya bertanya pada pedagang kangkung ini, harga kangkung saat ini kisarannya menjadi Rp 2000/ikat. dan dijual Rp 5000/3 ikat. ini disebabkan karena banjir yang menghanyutkan ladang kangkung di sepanjang sungai jangkok. |
 |
| Jalan menuju pantai dan muara sungai jangkok. letaknya di bawah jembatan atau di ujung kiri pasar |
 |
| refleksi bangunan pabrik kecap Wie Sin |
 |
| Anak-anak kelas 2 SD yang menunggu anak kelas 1 pulang. |
 |
| Jembatan di samping pasar ampenan. kabarnya, jembatan ini dibangun belum lama setelah pembuatan jalan lingkar selatan kota mataram. |
Ini tentang sungai. Tadi pagi sambil menunggu listrik menyala lagi, saya berjalan-jalan ke pinggir sungai jangkok dan dibuat terkejut karena hamparan kangkung yang biasanya menghijau dibawahnya, sudah terbawa banjir sore jam 4an kemarin. Begitu berdasarkan cerita bapak-bapak yang kemudian saya ajak ngobrol sepanjang pagi.
Memang sangat aneh saat melihat sungai jangkok kosong tanpa ladang kangkung. Bapak yang saya ajak ngobrol pun kelihatan lesu dengan rokok yang menyala ditangannya. Beliau sendiri memiliki petak ladang kangkung di sebelah barat tidak jauh dari jembatan. Katanya, dari waktu menanam sampai panen, hanya memerlukan waktu 3 bulan. Setelah itu, kangkung bisa dipanen tiap hari.
Asiknya, selain membicarakan kangkung, obrolan saya dan bapak yang belum sempat saya ajak kenalan itu berlanjut ke obrolan tentang sejarah sungai jangkok. Memang sih bukan sejarah yang awal banget, cuma sepenggal cerita saat bapak itu kecil. Saat aliran sungai jangkok begitu jernih, lebar sungainya pun kecil, dimana dipinggirnya banyak pohon bambu dan di bawahnya biasa digunakan anak-anak untuk main sepak bola. Saat itu saya sendiri di bawa ke kenangan masa keci saat pulang ke rumah nenek dan menemukan gambaran sungai yang sama seperti yang diceritakan bapak petani kangkung.
Saya pikir, degradasi sungai yang cepat seperti sekarang ini sangat tidak baik untuk kelangsungan ekosistem sungai sendiri. butuh perhatian ekstra dari masyarakat dan pihak pemerintah untuk bahu membahu melestarikan ekosistem sungai. Saya sendiri malah membayangkan kalau degradasinya tidak segera dihentikan, daerah muara akan melebar dan mengikis daratan. tentu itu bukan berita baik saya pikir.
setelah "khayalan lebay" itu saya posting ke facebook, saya mendapatkan info tentang program REDD+ yang bekerja melestarikan hutan dari hulu hingga muara/hilir. Termasuk melindungi sungai dari kerusakan. Organisasi yang di danai oleh negara maju yang berkewajiban membayar konversi karbon tersebut bekerja total untuk konservasi dan pelestarian lingkungan. Hal ini sebagai timbal balik jasa karena mereka merupakan negara penyumbang emisi karbon terbesar. Harapannya, semoga semua berjalan seperti yang diinginkan agar kelak anak cucu bisa merasakan sungai yang bersih dan alam yang asri dan lestari.
Komentar
Posting Komentar