Beberapa hari ini

Setelah kematian hamster kesayangan, saya memang lebih banyak merasa kurang nyaman menulis. Seperti lem. Lengket dan tidak bisa lepas. Saya sendiri sadar, berada dalam keterpurukan hanya akan membuat saya semakin asing dan frustasi. Ini tidak benar. Karena sebagian besar waktu terbuang hanya untuk bersedih. Sedikit rasa egoistis semakin memperparah semua itu. Tapi Alhamdulillah, satu dan dua hari ini saya merasa lebih baik meski belum sepenuhnya merasa lebih baik. Masih ada rasa takut yang membuat saya kaku dan takut untuk keluar rumah. Saya curiga ini karena saya yang semakin feminim? No! saya malah merasa sangat buruk kalau harus menjadi terlalu wanita yang hanya duduk diam dalam rumah. Rasanya bukan seperti saya. Tidak menjadi diri sendiri. Padahal sebentar lagi umur saya menggenap 25 tahun. Cuma tinggal 21 hari lagi.

Mungkin karena saya kurang santai belakangan ini. Dan saya akan akan selalu mengaitkannya dengan banyak kemungkinan tentu saja. haha..

Ngomong-ngomong, saya sedang membaca otobiografi milik Malcom X atau El-Hajj Malik El-Shabazz. Cukup mengerikan apa yang beliau lakukan pada awal-awal masa mudanya. Tidak adanya kesempatan untuk hidup lebih baik yang diberikan oleh orang kulit putih pada orang negro membuat keadaan pada zaman itu sering diwarnai kerusuhan akibat rasisme yang tinggi. Banyak keterpaksaan yang mendorong orang negro melakukan tindakan jahat seperti menjadi pedagang gelap, menjual rokok ganja, heroin, pecuran, judi, dll. Terjadi kemerosotan moral abikat desakan-desakan kebutuhan dan beban hidup yang berat. Hal ini membuat saya sendiri bergindik. Rasis yang lebih sering menginjak-injak hak asasi orang lain demi kepentingan Ras tertentu harusnya dilawan hingga saat ini. Tapi kejadian di palestina dan genosida yang dilakukan Israel tidak pernah bisa dibenarkan. Ah, jadi ingat negara dunia ketiga.

Negara dunia ketiga yang kebanyakan menjadi korban negara maju. Saya sendiri bingung mengapa banyak klaim keberhasilan yang dilakukan negara maju seperti masalah pencemaran lingkungan, hak asasi manusia, kemiskinan, peperangan yang terjadi saat ini seolah-olah tidak ada hubungannya dengan mereka. Bahwa mereka bisa hidup nyaman dengan green living, kesetaraan gender, kesamaan hak, kenyamanan hidup karena dijamin negara, kedamaian hidup yang mereka dapatkan, yang menurut saya sendiri sebenarnya tidak masuk akal. Mereka seperti orang yang menciptakan zona nyaman sendiri tapi diluar dari itu, mereka memanfaatkan orang lain untuk kenyamanannya sendiri. Mereka kuat. Punya uang, teknologi dan senjata. Mereka bebas melanggar, dan tidak dihukum berat karena diplomasi dan posisi tawar mereka yang tinggi. Bisa dikatakan, jika dulu negara jajahan masih punya harga diri untuk melawan, sekarang, mereka membeli pemimpin negara untuk membungkam mulut rakyat disuatu negara. Ironi apakah ini?

Dan yang lucu adalah ini terjadi pada tiap era dan masing-masing zaman yang anehnya, masih saja ada yang mewarisi keserakahan jenis ini. Mungkin juga yang aneh itu saya sendiri yang terlalu polos menganggap zaman akan semakin maju dan lebih bisa menghargai etika dan kemanusiaan yang benar-benar lurus tanpa ada semacam penyimpangan definisi kemanusiaan seperti homoseksualitas yang tidak bisa dibenarkan sama sekali. Logikanya bukan karena mereka yang juga manusia dan punya perasaan sehingga harus ada hak untuk mereka. Keberadaan mereka mengancam kelangsungan manusia itu sendiri. Fitrah manusia adalah hidupa berpasangan sesuai lawan jenis. Bukan sejenis yang menyimpang dari semua definisi mereka.

Siapa yang harus disalahkan? entahlah... sistem kehidupan dan pemikiran zaman sekarang yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan semakin merusak pikiran manusia secara global. Kapitalisme yang menyuburkan demokrasi, liberalisme, feminisme, pluralisme. Merusak akar-akar budaya yang sejatinya berjalan sesuai dengan nilai luhur kehidupan masyarakat.

Bimbinglah kami ke jalan yang benar ya ALLAH..

Komentar

Postingan Populer