Ocehan saat telinga berdengung
Dongeng memang lebih menyenangkan dari kehidupan nyata. Karena dalam pikirannya, pendongeng selalu ingin menyajikan gambaran kenyataan entah itu ideal untuk satu orang dan tidak ideal untuk yang lain. Yang saya yakini, dongeng membuat seorang anak bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik meski cerita dalam dongeng tidak selamanya menggembirakan di sisi "dunia ideal" untuk seorang pemimpi.
Saya sendiri yakin. Apapun yang sedang saya alami saat ini, tidak akan pernah ada artinya kalau saya tidak pernah menyadari bahwa ini adalah persinggahan untuk kehidupan yang lebih abadi disuatu tempat dimana keabadian menjadi keniscayaan.
Manusia hanyalah pendaran inti atom yang terus bergerak. Sebuah energi tidak terlihat bekerja dibalik itu semua. Bagaimana mungkin berubah angkuh kalau energi tidak kasat mata itu suatu hari dipadamkan oleh Sang Pemilik Sumber energi itu sendiri? Manusia sama sekali tiada tanpa kasih sayang dan kuasa-Nya. Milyaran bintang dan konstelasi jagat raya bekerja demi eksistensi manusia di bumi. Membentuk keseimbangan sempurna tanpa cela.
Manusia-manusia yang menganggap ALLAH adalah manusia, selamanya akan terus tersesat dan gila dengan anggapannya. Jika tuhan adalah manusia, mereka akan menemukan korelasi dan kelemahan antara manusia dan tuhan manusia yang mereka sembah. Karena selamanya manusia hanyalah mahluk materi yang tidak dapat mendukung hidupnya sendiri tanpa mengandalkan mahluk lain. Mahluk, unsur, senyawa dan benda lain adalah energi manusia untuk hidup, yang membuat inti atom dalam selnya bekerja dan terus bekerja untuk eksistensi manusia. Jadi wajarkah manusia dituhankan? Mustahil. Manusia adalah bagian dari penciptaan. Bagian dari jagat raya. Yang membuatnya lebih hanyalah diberikannya Akal untuk berpikir dan bertindak. ALLAH pun memberinya kehormatan sebagai khalifah di planet biru ini.
Saat bencana dan musibah datang menimpa manusia, itu karena ALLAH lebih tahu akan adanya sebagian manusia yang akan menimbulkan kerusakan dimuka bumi. Sebagai pengingatnya, ALLAH menciptakan semesta yang seimbang, yang bersumber hanya pada satu kekuatan yaitu ALLAH Yang Maha Mengatur segala dengan kesempurnaan-Nya. Betapa tiap kerusakan yang diciptakan manusia entah itu kecil atau besar, suatu masa akan dituai sebagai bagian dari sikap takabur dan angkuh. Hal ini jadi seperti bumerang, sejauh apapun bumerang dilempar, dia akan kembali pada si pelempar. Alam dan sistem sosial pun begitu. Keduanya bersifat sinkron dan saling berhubungan. Setiap kerusakan akan membentuk kembali keseimbangannya seperti semula, dan tiap kerusakah akan kembali menuntut keseimbangan. Menempati kedudukannya sebagai bagian dari alam semesta. Contohnya seperti luka yang dibantu sistem imun untuk kembali sembuh. Bekasnya menjadi tanda agar manusia tidak angkuh dan sombong terhadap Amanah jasad yang dititipkan.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(ayat yang ditulis sebanyak 31 kali dalam surah Ar Rahman)*
*Link untuk keterangan lebih lanjut
Saya sendiri yakin. Apapun yang sedang saya alami saat ini, tidak akan pernah ada artinya kalau saya tidak pernah menyadari bahwa ini adalah persinggahan untuk kehidupan yang lebih abadi disuatu tempat dimana keabadian menjadi keniscayaan.
Manusia hanyalah pendaran inti atom yang terus bergerak. Sebuah energi tidak terlihat bekerja dibalik itu semua. Bagaimana mungkin berubah angkuh kalau energi tidak kasat mata itu suatu hari dipadamkan oleh Sang Pemilik Sumber energi itu sendiri? Manusia sama sekali tiada tanpa kasih sayang dan kuasa-Nya. Milyaran bintang dan konstelasi jagat raya bekerja demi eksistensi manusia di bumi. Membentuk keseimbangan sempurna tanpa cela.
Manusia-manusia yang menganggap ALLAH adalah manusia, selamanya akan terus tersesat dan gila dengan anggapannya. Jika tuhan adalah manusia, mereka akan menemukan korelasi dan kelemahan antara manusia dan tuhan manusia yang mereka sembah. Karena selamanya manusia hanyalah mahluk materi yang tidak dapat mendukung hidupnya sendiri tanpa mengandalkan mahluk lain. Mahluk, unsur, senyawa dan benda lain adalah energi manusia untuk hidup, yang membuat inti atom dalam selnya bekerja dan terus bekerja untuk eksistensi manusia. Jadi wajarkah manusia dituhankan? Mustahil. Manusia adalah bagian dari penciptaan. Bagian dari jagat raya. Yang membuatnya lebih hanyalah diberikannya Akal untuk berpikir dan bertindak. ALLAH pun memberinya kehormatan sebagai khalifah di planet biru ini.
Saat bencana dan musibah datang menimpa manusia, itu karena ALLAH lebih tahu akan adanya sebagian manusia yang akan menimbulkan kerusakan dimuka bumi. Sebagai pengingatnya, ALLAH menciptakan semesta yang seimbang, yang bersumber hanya pada satu kekuatan yaitu ALLAH Yang Maha Mengatur segala dengan kesempurnaan-Nya. Betapa tiap kerusakan yang diciptakan manusia entah itu kecil atau besar, suatu masa akan dituai sebagai bagian dari sikap takabur dan angkuh. Hal ini jadi seperti bumerang, sejauh apapun bumerang dilempar, dia akan kembali pada si pelempar. Alam dan sistem sosial pun begitu. Keduanya bersifat sinkron dan saling berhubungan. Setiap kerusakan akan membentuk kembali keseimbangannya seperti semula, dan tiap kerusakah akan kembali menuntut keseimbangan. Menempati kedudukannya sebagai bagian dari alam semesta. Contohnya seperti luka yang dibantu sistem imun untuk kembali sembuh. Bekasnya menjadi tanda agar manusia tidak angkuh dan sombong terhadap Amanah jasad yang dititipkan.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(ayat yang ditulis sebanyak 31 kali dalam surah Ar Rahman)*
*Link untuk keterangan lebih lanjut
Komentar
Posting Komentar