Meet The Fall and try a simple dialogs







Saat melakukan perjalanan, tiap orang bisa menemui banyak hal. Sejuta wajah, beribu warna, dan segala macam bentuk perasaan dari sebuah pertemuan dan peristiwa. Tidak ada yang berlalu tanpa makna kecuali menambah lapangnya tiap hati. Dalam hidup, semua pertemuan dan perpisahan itu yang menyumbang ke lapangan hati, mengajari kesabaran hingga mengenal kata ikhlas untuk sebuah impian dan segala tindak tanduk hidup.

Dedaunan yang jatuh ini bukanlah apa-apa jika menganggapnya hanya sekedar daun. Dia jatuh, lapuk, lalu terdekomposisi kembali menjadi tanah diluar dari manfaatnya sebagai penyubur tanaman.

Sejuta ekspresi yang jika ditangkap menjadi bahasa alam. Karena daun adalah bagian kehidupan pohon, merupakan salah satu penghasil unsur kehidupan untuk semua mahluk hidup. Saat daun jatuh, pohon telah mendapat ganti tunas baru. Mereka yang gugur, layaknya pahlawan untuk yang lainnya. Jasa mereka memiliki andil besar untuk kekokohan sebuah pohon, keranuman sejumlah buah serta keindahan beraneka bunga.

Bertemu daun, merasakan bahasa dari bentuk dan warna adalah wisata sederhana untuk jiwa... terkadang, ekspresi mereka bisa sangat rawan dan rapuh. Biasanya yang mendekati wujud terdekomposisi dengan tanah, melihat mereka seperti menemukan kembali kesabaran pada sebuah keinginan untuk bermanfaat. Sebesar apapun keinginan, tidak akan pernah luput dari sebuah proses. Terlepas dari begitu rawannya sebuah proses. Dari sukses dan gagalnya sebuah tujuan dari proses. Semua itu tetaplah menjadi tujuan. Meski bukan menjadi tujuan yang sempurna lagi.

Banyak ekspresi lainnya. Semua menunjukkan kekuatan dari sebuah proses. Entah mereka jatuh karena sudah tua, atau daun yang masih muda tapi sudah jatuh saja berguguran di tanah. Semua punya bahasanya masing-masing. Peka terhadap kekuatan alam akan membuat diri lebih memahami kelemahan dan menghargai sebuah kegagalan. Entah itu makna jatuh sebagai sebuah konotasi yang menghambat sebuah kesuksesan. Tapi sukses tidak akan pernah menjadi manis tanpa ada proses jatuh dan gagal. Semuanya bisa dipelajari. Semua bisa direnungi. Karena Manusia adalah mahluk yang dikaruniai Hati dan pikiran. Dengannya, Jatuh menjadi proses menuju kematangan. Tidak akan berhenti menjadi berguna. Seperti daun yang telah jatuh. Meski tidak bisa memasak lagi untuk pohon, tubuhnya masih berguna untuk makanan akar pohon yang akan digunakan daun-daun yang bertengger di ujung-ujung ranting untuk memasak sehingga pohon pun berbuah, menjadi kokoh dan bisa kembali menghasilkan tunas-tunas baru untuk kehidupan pohon.

Komentar

  1. suka sekali mbak fotonya. indah. Selalu punya rasa tersendiri yang sulit dijelaskan. tapi saya menikmatinya..
    katanya Tere Liye, "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak ya yun.. semoga bisa dinikmati :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer