Catatan Hidup Singkat Keluarga Kucing

Si induk saat hamil. Dia biasanya senang bermanja-manja ke saya dan saya selalu melimpahinya dengan ikan

Sesaat setelah saya meletakkan anak-anaknya ke dalam kardus

Dua hari kemudian, si induk baru berani meninggalkan anaknya untuk mencari makan.

Kuburan anak kucing yang pertama meninggal. Sisanya, saya tidak sanggup memotretnya lagi, rasanya terlalu memilukan

ini pagi saat mereka berumur 3 hari. dan seekor dari mereka meninggal.

ini adalah adegan yang paling menyedihkan. Dua saudaranya meninggal dan dia mencoba tidur di atas mereka seolah-olah saudaranya masih hidup seperti biasa.

Sendiri dan Rapuh

Tangan dan Kehangatan dari suhu tubuh saya hanya kenikmatan ala kadarnya yang bisa dia nikmati

Kaki yang bahkan belum lancar berjalan

Suhu dingin belakangan ini benar-benar menjadi lebih dingin rasanya. Awalnya, saya dan semua orang di rumah (saya sendiri sih sebenernya) akan sangat gembira karena induk kucing yang akan segera melahirkan. Saya tentu menjadi orang pertama yang menunggu moment ini. 5 hari yang lalu si induk pun melahirkan. Meski sibuk, saya mencoba terus mengontrol prosesnya sore itu, hingga akhirnya anak-anak kucing itu saya masukkan ke kardus yang dilapisi kain agar lebih terlindungi dan hangat.

Lalu, saat melihat gerak-gerik induk kucing yang mulai terlihat stress, saya pun mulai khawatir. Gejalanya sangat mirip sindrome baby blues yang biasa menyerang wanita saat pertama kali melahirkan. Tidak nafsu makan, terlihat linglung, tidak menyusui dan mengurusi anak-anaknya. Ya, tidak perlu waktu lama untuk menebaknya. dua hari setelah melahirkan satu ekor anaknya meninggal. sehari kemudian langsung dua ekor, dan sehari kemudian saya semakin frustasi karena menemukan induk kucing itu tergeletak meninggal di teras tetangga dengan mengeluarkan darah di hidungnya. Alhasil, satu ekor anak kucing itu saya rawat. yang membuat saya terenyuh, dia bahkan belum memahami cara mencari makan atau membiarkan dirinya mencoba makanan baru selain mencari air susu ibunya secara naluriah. Dia hanya mengerti hal itu. Cara mencari air susu induknya.

Usaha saya pun terasa sia-sia saat anak kucing terakhir yang saya rawat semakin melemah dan memperlihatkan pembengkakan di mulutnya. Yang membuatnya nyaman hanya tidur sepuasnya di tangan saya lalu mengeong saat mulai saya letakkan di kardus tempat saya menyimpannya. Saya sedih. Untuk kedua kalinya saya merasa begitu bodoh menjadi manusia. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk meringankan deritanya.

Setelah bertahan sehari itu, besoknya kucing kecil itu pun meninggal dunia. Pada subuhnya, saya benar-benar meminta Allah untuk segera mencabut saja nyawanya. Ini untuk kedua kalinya saya meminta hal tersebut. Yang pertama saat melihat nenek saya menghadapi sakaratul mautnya. Saat itu, membayangkan keberadaannya saat itu saja saya langsung sedih. Tidak ada harapan untuk bertahan dan pada saat itu saya meminta dan menangis sejadi-jadinya agar Allah segera mengakhiri semuanya. Saya tidak tega menyaksikan tubuh ringkih itu terus menahan kesakitan. Induk yang dibutuhkannya sendiri sudah tidak ada dan saya sendiri, si bodoh ini hanya bisa melihatnya pilu. Saat itu, saya benar-benar ikhlas melepas semuanya.

Komentar

Postingan Populer