If Two People are Meant to be Together
Belakangan, saya sering dihadapkan dengan cerita tentang perasaan yang terus hidup. Tentang rasa kehilangan yang datang saat seseorang itu benar-benar pergi. Tentang perasaan yang terus diingkari karena tidak ingin terluka yang akhirnya menyiksa diri orang itu sendiri setelah semuanya hilang dan akan semakin sulit untuk diperjuangkan. Ya, ketidakjujuran selalu menghantui dengan nilai minusnya pada menghilangnya ketenangan hati. Ini tidak hanya berlaku pada ketidakjujuran pada orang lain, tapi kejujuran pada diri sendiri pun sama. Karena terkadang, apa yang memang harus kita hadapi, akan terus disuarkan hati dan pikiran untuk dihadapi. Di luar dari ketenangan hati yang diinginkan. Perasaan yang diingkari malah akan terus meneror. Meski banyak hal yang memang diluar dari kendali individu yang memiliki perasaan itu sendiri. Hal yang tidak mudah memang. Tapi tidak sulit melewatkannya. Seseorang hanya butuh kuat dan terus sabar menghadapi luka. Dan setelah itu, semua akan menjadi mudah dan mendamaikan.
Mencintai seseorang begitu dalam itu tidak ada salahnya. Kadang, kebanyakan orang hanya fokus saat cinta dan perasaan itu kuat dan membara sehingga tidak sadar kalau perasaan itu sendiri yang terlihat mulai meredup, sebenarnya awal mulai menyatunya perasaan itu. Tapi tidak banyak yang menyadarinya. Malah akan lebih banyak orang yang menyangkalnya dan memutuskan untuk pisah. Karena selain menyatunya dua perasaan, Cinta itu sendiri adalah kebiasaan.
Ya, dan diluar dari itu semua, semua yang sudah ditakdirkan menjadi jodoh dan rejeki, semua akan kembali pada orang tersebut. Ini hak yang sudah disepakati si manusia dengan Tuhannya sejak di alam keabadian. Tidak ada yang akan bisa lari dari hal itu.

Komentar
Posting Komentar