Saat impian udah ditangan, lalu apa lagi?
Awalnya saya pikir, mungkin hal itu bagian dari kejenuhan. Masa muda yang kata orang penuh huru-hara kehidupan itu memang begitu mendesak dan menekan untuk mencapai segala hal, seakan masa tua itu adalah hal yang menakutkan untuk memiliki dan mengejar banyak impian dan hal-hal baru. Tapi itu memang bukan hal yang sedang ingin saya bahas.
Menurut saya, ini semacam kematian perlahan dari semangat yang pernah dioborkan oleh diri sendiri saat "on fire" mengejar sebuah impian. Yang kadang saya takutkan, hadiah dari pencapaian impian itu bukan apa yang di depan, tapi huru-hara yang kita alami saat mengejarnya yang benar-benar kita nikmati. Saat meraihnya, kita sendiri sudah tidak tahu mau diapakan lagi. Energi kita habis karena mengejarnya. Fokusnya menjadi berubah dan kita sendiri malah memasang goals lain dan memulai yang baru tanpa tau mau diapakan "the comes true dream" yang udah diraih. Ujung-ujungnya, impian itu malah teronggok di sudut kamar. Kita hanya menang pada label "the dreamer" tapi bukan menjadi seseorang yang merubah impian itu menjadi benih lalu menumbuhkannya menjadi sesuatu.
Sebenarnya, dalam taraf sebuah keberadaan manusia, sebagai seorang yang masih muda, impian adalah mata air ditengah berbagai macam pengejaran masa muda itu sendiri, keharusan belajar ini-itu. Sesuatu yang membuat seseorang ingin menjadi lebih. Sesuatu yang membuat seorang anak dari tempat terisolir mau menyeberangi jembatan reot penuh lubang yang bisa saja membuat seseorang terjerembab jatuh ke sungai berarus deras.
Saya sendiri mengalami hal itu. Saat meraih impian yang saya inginkan, saya tidak tau harus diapakan lagi. Sampai menulis postingan INI beberapa waktu lalu. Pertanyaan saya waktu itu "Apa iya saya benar-benar mengiginkan ini semua?"
Belakangan ini saya mendapat jawabannya setelah membaca buku Paulo Coelho yang The Pilgrimage. Dialog antara Petrus dan Paulo menurut saya "ngena!" banget untuk kondisi dan pertanyaan saya. kutipan dialog mereka gini:
"Jalan yang sekarang kau tempuh adalah jalan kekuatan, dan hanya latihan melibatkan kekuatan yang akan diberikan padamu. Perjalananmu yang sebelum ini penuh dengan siksa karena yang kau inginkan hanyalah sampai pada tujuan, kini mulai menjadi kenikmatan. Inilah yang dinamakan kesenangan pencarian dan petualangan. Kau coba meraih hal yang sangat penting - impianmu."
"Kita tidak boleh berhenti bermimpi. Impian menyediakan nutrisi bagi jiwamu, seperti makanan bagi tubuh. Ada banyak momen dalam hidup kita saat impian tercerai dan harapan tak sampai, tapi kita harus terus bermimpi. Saat kita masih muda dan mimpi-mimpi kita meledak dalam diri kita dengan segenap kekuatannya, kita menjadi sangat pemberani, tapi kita belum mengetahui cara bertempur. Melalui usaha yang keras, kita belajar bertempur, namun saat kita akhirnya bisa bertempur, kita kehilangan nyali untuk bertempur. Jika kita berbalik bertempur melawan diri sendiri. Kita menjadi musuh terburuk bagi diri sendiri. Kita akan mengatakan mimpi-mimpi itu kekanak-kanakan, atau terlalu sulit diwujudkan, atau impian itu ada karena kita belum belajar banyak tentang kehidupan. Kita membunuh impian karena takut berjuang dengan sekuat tenaga."
"Gejala awal kita berada dalam proses membunuh impian adalah keterbatasan waktu, orang-orang tersibuk selalu memiliki cukup waktu untuk semua hal. Mereka tak pernah melakukan apapun selalu merasa letih dan tak memperhatikan perkerjaan mereka yang berbeban sedikit. Mereka sering mengeluh hari terlampau singkat. Sebernarnya, mereka hanya takut berjuang sekuat tenaga."
"Gejala kedua impian kita mulai mati terletak dalam keyakinan kita. Karena kita tidak ingin lagi memandang hidup sebagai petualangan Hebat, kita lalu memandang diri sendiri bijaksana dan adil serta benar karena sedikit sekali mempertanyakan hidup. Kita melihat hal-hal yang terbentang dibalik kehidupan sehari-hari, dan mendengar suara perisai bersahutan, membaui segala debu dan keringat, serta melihat kekalahan besar dan api semangat yang terpancar dari mata para kesatria. Namun kita tak pernah menangkap kebahagiaan, kebahagiaan tak terkira yang timbul dari hati para pejuang di medan perang. Bagi mereka, kalah atau menang menjadi tak penting; yang paling penting adalah kau bertempur dan membela kebaikan.
Dan, yang terakhir, gejala ketiga kita melepaskan impian adalah kedamaian. Hidup seperti minggu sore; Kita tak lagi menginginkan sesuatu yang luar biasa, dan kita pun tak lagi meminta sesuatu lebih dari yang akan kita berikan. saat itu terjadi, kita berpikir inilah yang disebut dewasa; kita melupakan impian masa muda, dan kita mencari pencapaian pribadi dan profesional. Kita akan terkejut mengetahui orang seumur kita masih menginginkan banyak hal dalam hidup mereka. Namun jauh di lubuk hati, kita tahu yang sungguh terjadi adalah kita menyerah bertempur demi mimpi kita. Kita menolak bertempur demi kebaikan."
Tamparan sekaligus hal yang membangun saya kembali. Masih banyak yang harus saya temukan dari apa yang saya raih hari ini. Dan saya sadar hal ini tidak mudah. Bukan karena saya yang tidak menginginkannya atau lelah. Tapi kadang, diri sendiri adalah musuh terbesar saat ingin mencapai sesuatu. Kayak yang Petrus bilang ke Paulo.
Musuh kita adalah perwujudan dari kelemahan kita. Kelemahan ini mungkin berwujud ketakutan akan rasa sakit secara fisik, tapi bisa juga berwujud rasa kemenangan yang terlalu dini ataupun hasrat kuat untuk menghindari pertempuran karena kita merasa itu tak layak untuk diperjuangkan
Musuh kita ikut bertempur hanya karena ia tahu ia bisa melukai kita dan luka itu akan tepat mengenai titik tempat harga diri kita memberitahukan bahwa kita tak terkalahkan. Sepanjang pertempuran, kita selalu mencoba untuk melindungi titik lemah kita, jadi musuh akan menyerang sisi yang tak terlindungi, sisi tempat kita menaruh kepercayaan akan kekuatan sendiri. Dan kita akan dapat dikalahkan karena kita membiarkan sesuatu yang seharusnya tak boleh terjadi: kita membiarkan musuh kita menguasai jalan pertarungan."
Dan dari semua itu, saya suka dengan kutipan saat Paulo sadar arti perjalanan yang dilakukannya. Bahwa saat menemukan apa impianmu, kau harus tau apa yang ingin kamu lakukan dengan hal itu nanti.
"hanya beberapa yang mampu menanggung beban kemenangan ini: kebanyakan merelakan impian mereka saat mereka merasa impian itu dapat mewujud. Mereka menolak untuk bertempur sepenuh tenaga karena mereka tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kebahagiaan yang mereka raih: mereka terpenjara dalam benda-benda material di dunia."Siapapun yang membaca ini dan merasakan hal yang sama, saya juga mengalami hal itu. Hal yang saangat bikin frustasi. Tapi ada uangkapan klise yang jadi realitas tak terhindarkan dari semua masalah, termasuk saat frustasi dan stress "waktu akan menyembuhkan dan menjawab banyak hal". Sabar, Semangat dan Jangan Nyerah. :)

Komentar
Posting Komentar