Sekolah di atas bukit

Namanya Eka, guru di sekolah ini
Eka yang sedang mengamati Ruang kelas
Menurut Eka, ini adalah ruang guru. Tempat para guru berkumpul saat menunggu waktu mengajar
Pintu ruang guru
salah satu pintu pada bangunan permanen di sekolah ini
Ruang Kelas yang di seka 2 bilik untuk membagi kelas yang berbeda
Eka yang mencoba membuka pintu ruang kelas yang sudah terkunci
kedua bangunan permanen yang dimiliki sekolah
Pohon Asam yang sangat menarik saya saat sampai di sekolah ini. Tempatnya di belakang bangunan permanen
Eka di depan ruang guru
Penampakan sekolah di atas bukit secara keseluruhan
Jadwal ujian yang berada di ruang guru
Sekat yang membagi ruang kelas dan ruang guru
ruang kelas 5 dan 6 dilihat dari ruang guru
Ruang kelas untuk kelas 5 & 6
Waktu sampai di sekolah ini, saya segera tercengang sambil bergumam "ah, ternyata di daerah ku masih ada sekolah yang seperti ini..." awalnya, saya hanya berpikir hal ini hanya terjadi di berita TV dan lainnya. Bukan di daerah saya. Melihat fakta ini, saya cukup sedih. Menurut Eka yang menjadi guru di SD sekaligus SMP ini, sekolah ini tergolong masih baru, meski milik swasta, minat siswa yang menuntut ilmu tidak lemah. Hal itu menjadi penyemangat guru-guru yang mengajar meski mengalami keterbatasan ruang kelas yang sangat jauh dari kenyamanan.

Ini membuat saya sadar, ilmu tidak memandang tempat itu indah atau buruk. Keduanya punya nilai untuk pendidikan diluar dari sekat nyaman dan tidak nyaman. Nyaman dan tidak nyaman pun hanya sekat bagi sebuah kebiasaan. Tidak menjadi ukuran untuk proses belajar. Proses akan membuat semuanya menjadi matang dan sempurna. Sehingga, semua orang dapat memahami makna dan keberadaan sebuah proses dengan lebih bijak. Seperti ilmu itu sendiri. Diketahui, lalu dikerjakan untuk mendapatkan tujuan dan menghasilkan kesimpulan yang dipahami secara universal.

Komentar

  1. mbak,, beneran ada ya..??
    mbak in, ga ngajar juga di situ? ah, semakin ingin menengok dan melihat situasi belajar nya.
    aahh,, ilmu itu sangat bersahaja, apalagi orang yang mau mendidik berbagi ilmu..
    mbak in,,, siap menanti petualangan selanjutnya..
    ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya yun.. saya sendiri hampir ga percaya sebenernya. Dan ternyata apa yang kita anggap tidak ada itu mungkin ada di suatu tempat. saat kita menemukannya, kita merasa seperti ditampar-tampar

      pengen sih yun, mengabdi. cuma kak in lagi mengejar cita-cita yang sekarang dulu. ah, do'akan semoga semuanya lancar :D

      Hapus
    2. Aamiin. lagi sibuk ya mbak?
      wahh semangat! semoga berhasil mbak.. ^^

      Hapus
    3. ga terlalu sibuk yun.. cuma lebih memanage waktu aja biar lebih efektif. Thanks ya dear... :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer